Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tentang Kami

Ayo, Bangun Perpustakaan Desa!

Sejak dianggarkannya Dana Desa dalam APBN, Pembangunan di wilayah pedesaan mulai bergeliat cukup pesat. Salah satu pembangunan tersebut adalah pembangunan literasi di tingkat pedesaan yang bernama Perpustakaan Desa. Dalam Rakornas Perpustakaan Nasional tahun 2020 diungkapkan bahwa jumlah Perpustakaan Desa secara nasional tercatat sebanyak 33.929 dari 83.441 desa/kelurahan seluruh Indonesia. Hal tersebut patut disyukuri karena selama ini pembangunan pusat literasi di desa kurang begitu diperhatikan, tak lain dan tak bukan dikarenakan alasan klasik yaitu keterbatasan dana yang dimiliki untuk menginjeksi Perpustakan Desa.

Kita semua sudah maklum bahwa Perpustakaan Desa adalah merupakan program nasional yang telah termaktub dalam undang-undang beserta turunannya. Dari beragam penjelasan produk undang-undang tersebut, dimaklumatkan bahwa setiap desa wajib memiliki minimal satu pusat literasi atau Perpustakaan Desa.  Bahkan dalam salah satu pasal disebutkan secara jelas apabila wilayah pemukiman warga desa sangat sulit dijangkau, maka perlu disediakan armada khusus yang bisa mengangkut sumber literasi untuk dinikmati oleh warga desa, sehingga hak atas literasi warga negara dapat dipenuhi secara merata.

Diperbolehkannya Dana Desa untuk membangun dan mengembangkan Perpustakaan Desa perlu kita apresiasi dan kita sambut dengan penuh riang gembira. Terlebih memang program Pendidikan dan pengembangan SDM adalah merupakan program prioritas yang menggunakan Dana Desa. Tak harus dengan jumlah yang fantastis, hanya dengan konsisten menganggarkan minimal 3% saja dari total Dana Desa yang diterima setiap tahun, keberlangsungan Perpustakaan Desa sudah bisa ditopang dengan baik. Anggap saja dana yang diterima oleh desa dari pusat senilai Rp. 800.000.000,- (Delapan Ratus Juta Rupiah), maka 3% dari dana tersebut adalah Rp. 24.000.000,- (Dua Puluh Empat Juta Rupiah). Dengan anggaran tersebut sudah dapat digunakan untuk mengadaan ratusan judul buku sebagai dasar awal pembentukan dan nyawa dari Perpustakaan Desa. Apalagi jika setiap tahunnya Pemerintah Desa bersedia menganggarkan minimal 5%, maka dana pengembangan Perpustakaan Desa tiap tahunnya berjumlah Rp. 40.000.000,-. (Empat Puluh Juta Rupiah). Jika dilakukan dengan konsisten, dalam kurun waktu 4 tahun saja, Desa sudah akan memiliki pusat literasi yang memadai, Ideal, dan bahkan professional.

Terhitung sejak tahun 2016, sebagai Distributor Buku yang berpusat di Kota Pendidikan D.I. Yogyakarta, kami mulai aktif mendistribusikan buku-buku kepada Perpustakaan-Perpustakaan Desa di seluruh pelosok Indonesia. Kami tidak menghitung secara pasti jumlahnya, dalam hitungan kami, lebih dari 2.000 Perpustakaan Desa yang telah memperoleh distribusi buku dari kami. Melalui usaha Distributor Buku yang kami geluti, kami berupaya memposisikan diri sebagai mitra terbaik bagi Perpustakaan Desa. Tak hanya sekedar menjual buku belaka, secara moral kami juga merasa ikut bertanggungjawab atas keberlangsungan Perpustakaan Desa. Salah satu tujuan dan harapan kami, jangan sampai nantinya buku-buku yang telah diadakan dengan susah payah hanya akan menjadi tumpukan yang tidak terurus dan tidak dibaca warga masyarakat.

Berangkat dari maksud dan tujuan tersebut di atas, maka kami berikhtiar untuk melakukan hal-hal berikut bagi mitra Perpustakaan Desa kami:

Membantu memudahkan Perpustakaan Desa dalam Melaksanakan Pengadaan Bahan Bacaan

Kita semua tahu bahwa pusat produksi buku saat ini ada di Pulau Jawa, itupun hanya ada di beberapa kota besar saja, salah satunya yang menjadi pusat buku adalah Kota Yogyakarta. Terkenal dengan julukan Kota Pelajar, kualitas literasi di Kota Yogyakarta sudah tidak diragukan lagi.

Keberadaan pusat buku baik produksi maupun distribusi yang tidak merata selama ini sangat menyulitkan bagi daerah untuk melakukan pembelian buku. Adanya toko-toko buku di kota/provinsi terkadang belum dapat memenuhi koleksi yang diinginkan akibat keterbatasan rak yang tersedia di toko. Jika melakukan transaksi langsung dengan penerbit, maka akan sedikit merepotkan karena mesti mengetuk banyak pintu lantaran satu penerbit saja tentu tidak akan bisa mencukupi kebutuhan literasi yang beragam.

Melalui usaha Distributor Buku yang kami miliki, kami berupaya memudahkan Perpustakaan Desa untuk melakukan transaksi satu pintu saja, namun juga memperoleh bahan bacaan lengkap dari banyak publisher atau penerbit buku. Dengan jaringan dan pengalaman distribusi kami juga, kami pastikan buku akan sampai ke Perpustakaan Desa dengan sangat aman.

Membantu Memilihkan Buku-buku yang Layak, Berkualitas dan Benar-Benar Dibutuhkan oleh Masyarakat Desa

Selama kurang lebih 9 tahun perjalanan kami menjadi Distributor Buku, kami telah bekerjasama dengan banyak penerbit yang ada. Hal itu disebabkan karena banyaknya permintaan jenis buku dari perpustakaan-perpustakaan relasi kami, baik Perpustakaan Sekolah, Perguruan Tinggi, Perpustakaan Desa, Perpustakaan Umum Daerah maupun Perpustakaan Khusus milik swasta maupun pemerintah. Ada ribuan judul buku yang dapat kami sediakan. Khusus untuk Perpustakaan Desa, kami sengaja menyusun, memilih dan memilih judul-judul yang memang diperlukan untuk Perpustakaan Desa.

Meskipun status Perpustakaan Desa adalah perpustakaan umum yang mesti memiliki koleksi buku dengan jenis buku yang beragam, namun tak semua buku cocok dikoleksi oleh Perpustakaan Desa yang merupakan perpustakaan basis. Koleksi Perpustakaan Desa mesti disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan literasi masyarakat desa. Berangkat dari interaksi kami dengan Perpustakaan Desa, kami telah Menyusun kategori dan jenis buku dengan beragam topik penting, di antaranya adalah :

  • Administrasi, Manajemen dan Tata Kelola Pemerintahan
  • Akuntansi, Keuangan, Koperasi dan BUMDes
  • Biografi, Sejarah dan Kebudayaan
  • Bisnis, Ekonomi Kreatif dan UMKM
  • Budidaya dan Teknologi Perikanan
  • Budidaya dan Teknologi Pertanian dan Perkebunan
  • Budidaya dan Teknologi Peternakan
  • Buku Cerita dan Pengetahuan Anak
  • Buku Referebsi - Ensiklopedia
  • Buku Referensi - Kamus
  • Desain dan Arsitektur
  • Esai dan Humaniora
  • Filsafat dan Pemikiran
  • Gizi dan Kesehatan Masyarakat
  • Hobi dan Olahraga
  • Hukum dan Perundangan
  • Ilmu dan Manajemen Perpustakaan
  • Karya Sastra - Cerpen, Puisi. Novel dan Roman
  • Kesenian dan Musik
  • Keterampilan dan Kerajinan Tangan
  • Motivasi dan Pengembangan Diri
  • Parenting dan Pendidikan Keluarga
  • Pendidikan dan Pembelajaran
  • Pengembangan Pariwisata
  • Pengetahuan Agama Islam
  • Pengetahuan Bahasa dan Sastra
  • Pengetahuan Umum
  • Tata Boga dan Kuliner
  • Teknik dan Teknologi Terapan

Dari segi kualitaspun sangat kami perhatikan baik kualitas fisik maupun konten. Kami hadirkan buku-buku dengan tahun terbit terbaru agar materi-materi yang terdapat dalam buku tersebut terasa segar dan update terhadap perkembangan zaman.

Tak Hanya Sekedar Menjual Buku, Kami Juga Akan Ikut Mengawal Tumbuh Kembangnya Perpustakaan Desa Mitra Kami

Banyak keluh kesah yang kami tangkap dari pengelola Perpustakaan Desa. Salah satunya   di saat menghadapi realitas bahwa Perpustakaan Desa yang dikelola minim pengunjung. Rata-rata mereka berpikir bahwa minat baca masyarakat yang rendahlah yang menyebabkan sepinya Perpustakaan Desa. Menanggapi kegamangan tersebut, selalu kami sampaikan bahwa kehadiran Perpustakaan Desa tujuan utamanya adalah mengangkat budaya membaca di tengah-tengah masyarakat. Jadi, rendahnya budaya baca masyarakat bukanlah penghalang bagi tumbuh kembangnya Perpustakaan Desa, namun merupakan tantangan yang mesti dihadapi. Jika rendahnya minat baca msyarakat diibaratkan sebuah penyakit, maka Perpustakaan Desa adalah penawarnya (obat), dan pengelola perpustakaan adalah tabibnya (dokter).

Peran kami sebagai distributor tidak hanya kami cukupkan pada penjualan buku saja. Kami berusaha ikut membantu persoalan-persoalan yang dihadapi oleh Perpustakaan Desa dengan cara menghadirkan artikel-artikel ringan terkait hal-hal yang berhubungan dengan Perpustakaan Desa seperti:
  • Bagaimana kita mengenal lebih dalam dengan Perpustakaan Desa terkait fungsi, tujuan, tugas serta potensi-potensi yang dimiliki oleh Perpustakaan Desa dalam memberdayakan masyarakat dan memajukan desa
  • Desain, Tata Kelola dan manajemen Perpustakaan Desa yang baik dan benar demi menghadirkan Perpustakaan Desa yang ideal dan profesional
  • Tips dan Trik Mudah menjadikan Perpustakaan Desa sebagai institusi penggerak minat baca masyarakat
  • Langkah-langkah praktis pengembangan Perpustakaan Desa, semisal bagaimana cara membangun mitra Kerjasama dan kolaborasi yang sinergis dengan Lembaga-lembaga lain seperti BUMDes, Lembaga Pendidikan, Lembaga Swadaya dan juga perusahan-perusahaan yang ada di wilayah desa
  • Dan artikel-artikel lainnya yang berhubungan dengan budaya membaca dan literasi masyarakat

Selain dalam bentuk artikel, di berbagai media daring yang kami miliki, kami juga hadirkan beragam informasi-informasi ter-update tentang dunia Pustaka dan literasi yang kami himpun dalam rubrik Gerbang Pustaka. Termasuk juga kami hadirkan kisah-kisah menarik inspiratif yang dimiliki oleh Perpustakaan-Perpustakaan Desa berprestasi dari berbagai penjuru Nusantara, yang kami rangkum dalam rubrik Bedah Perpustakaan Desa (BPD).


Membangun Komunitas Perpustakaan Desa di Seluruh Indonesia Untuk Terus Maju dan Berkembang Bersama Secara Masif dan Progresif

Filosofi Sapu Lidi menjadikan landasan berfikir kami dalam membangun komunitas Perpustakaan Desa. Jika lidi berdiri sendiri makan akan mudah patah, namun jika Bersatu dalam satu ikatan yang kuat, maka akan kokoh dan memiliki fungsi yang optimal. Demikian halnya dengan Perpustakaan Desa, jika bergerak bersama-sama dalam satu barisan, maka akan menjadi kekuatan Gerakan Literasi yang progresif dan revolusioner serta saling menopang satu dan lainnya.

Komunitas Perpustakaan Desa bukanlah hal yang baru, baik yang bergerak secara mandiri maupun yang dikoordinir dan digerakkan oleh Perpustakaan Umum Daerah (PERPUSDA) dan  bahkan Perpustakaan Nasional (PERPUSNAS). Maka dari itu, komunitas yang mulai kami rintis di tahun 2020 ini bukan berniat untuk menjadi pesaing. Kami ingin ikut meramaikan dunia literasi karena kami percaya bahwa akan sangat indah jika banyak tumbuh komunitas penggerak Perpustakaan Desa yang nantinya akan berkolaborasi dan bersinergi serta saling menguatkan demi kemajuan Perpustakaan Desa pada khususnya.

Langkah membangun komunitas ini kami awali dengan mengadakan Lomba Menulis Kisah Inspiratif antar Perpustakaan Desa secara nasional, dengan tema “Dari Desa Membangun Bangsa”. 10 karya terbaik akan kami berikan penghargaan sederhana yaitu berupa paket buku serta karya-karyanya akan kami susun dalam sebuah Buku Antologi dan diterbitkan melalui lini penerbitan kami yaitu Lokajaya Media. Kegiatan ini juga kami maksudkan untuk menyapa seluruh penggerak Perpustakaan Desa yang tersebar di seluruh pelosok negeri.

Demi membangun dan mengembangkan komunitas ini, PR kami amatlah banyak dan akan kami kerjakan pelan-pelan dan kontinyu. Ada 3 PR besar yang sedang kami kerjakan yaitu:
  1. Membuat dan Mengembangkan Portal Komunitas Perpustakaan Desa
  2. Membangun dan menyediakan e-library (Perpustakaan digital) untuk Perpustakaan Desa
  3. Membangun dan Menyediakan Open Education Resourses (OER) Bagi Perpustakaan Desa dalam bentuk audio maupun visual
Persoalan Perpustakaan Desa bukan hanya sekedar berhenti pada penyediaan sarana fisik (gedung dan buku) saja, namun lebih pada soal bagaimana Langkah selanjutnya untuk mempertahankan dan mengembangkannya. Tak sedikit Perpustakaan Desa yang baru berdiri lantas tumbang lantaran persoalan-persoalan di luar pengadaan buku. Oleh karena itu, sekali lagi kami sampaikan bahwa kehadiran kami sebagai Distributor Buku berupaya untuk menjadi mitra terbaik Perpustakaan Desa khususnya bagi Perpustakaan Desa mitra kami dan seluruh Perpustakaan Desa yang ada pada umumnya.

Ayo, Kita Bangun Perpustakaan Desa! Kami mengajak kepada diri kami pribadi, masyarakat Desa, Pemerhati literasi serta para pemangku kepentingan untuk bergandengan tangan dengan erat dan maju bersama demi terbentuknya masyarakat melek literasi secara merata. Kalau bukan kita, siapa lagi?