Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Titik Balik Belajar El

 “El adalah tipe anak yang hyperactive namun tidak tersalurkan dengan baik. Dalam berbicara, ia sering kali menyerap kata yang tak baik dari lingkungan sekitar. Bahkan perilakunya juga terkadang terlihat tidak bersahabat di usia kanaknya hingga mau berbuat curang. Itu semua terjadi karena kurangnya perhatian dari kedua orangtua akibat sibuk bekerja.”

- Sri Rezeki -

Titik Balik Belajar El

Pada umumnya kita kerap kali menyebutkan anak bawang adalah anak yang baru masuk pada tahapan tertentu. Misalnya, sebagai anak yang baru saja bergabung pada sebuah forum. Nah, karena ilmunya tentang forum itu masih sedikit maka disebutlah anak bawang kepada anak tersebut. Pada tahapan ini penulis ingin menyampaikan tentang perjuangannya dalam menebar semangat untuk menjiwakan dunia baca pada anak bawang. Eitss, bukan bawang yang biasa kamu jumpai di dapur, ya, hehe. Anak bawang yang dimaksud di sini ialah anak usia dini, ya.

Banyak anak usia dini yang sudah lekat pada gadget. Hal ini bukanlah atas dasar keinginan mereka melainkan atas contohan dari orang terdekat yang tak lain adalah orangtua. Pada masa keemasannya anak akan mencontoh hal apapun yang menjadi kebiasaan orangtua dan sekitar. Ibarat kata, anak usia dini bagaikan sebuah gelas yang kosong yang jika kita mengisinya dengan hanya kegiatan bermain gadget maka ia akan kehilangan masa kreatifnya dalam bertumbuh kembang. Karena gelas tersebut sudah penuh dengan kegiatan gadget. Bermain gadget tidak mengeluarkan tenaga yang banyak. Hal ini justru akan menutup kemungkinan bahwa anak tidak akan bergerak aktif menyerap pelajaran baru tentang kehidupan bersosial (berteman) maupun kehidupan alam (keadaan sekitar). 

Begitulah hal yang sedang dirasakan oleh El, dengan napas tidak beraturan ia berlari terengah-engah dari lapangan menuju rumah dan langsung masuk ke kamar lalu membanting pintu dengan sekuat tenaga yang ia punya. Meskipun usianya baru genap 4 tahun ia telah memiliki tenaga yang lumayan kuat hingga menghasilkan suara dentuman di ruangan itu. Hari sudah mulai mendung namun ia masih ingin bermain dengan Ibnu yang ternyata ia telah mencurangi Ibnu sehingga menangis. Itu karena ia tidak pandai berteman. Hal inilah yang membuat ibunya sedikit marah karena ibu Ibnu melapor bahwa El mencuranginya. 

El adalah tipe anak yang hyperactive namun tidak tersalurkan dengan baik. Dalam berbicara, ia sering kali menyerap kata yang tak baik dari lingkungan sekitar. Bahkan perilakunya juga terkadang terlihat tidak bersahabat di usia kanaknya hingga mau berbuat curang. Itu semua terjadi karena kurangnya perhatian dari kedua orangtua akibat sibuk bekerja. Ketika tiba di rumah sibuk dengan ponsel. Sehingga kurang memperhatikan tumbuh kembang anak.

Terdengar dari luar ruangan suara ibunya naik satu oktaf karena tingkah anak sulungnya yang susah diatur. Sambil berjalan terseok-seok membawa perut buncitnya ia tetap mengejar anaknya menuju ke dalam kamar. Hatinya semakin panas mendengar anaknya membanting pintu. Emosinya memuncak ke ubun-ubun sehingga membuat mukanya merah padam. 

Nayla adalah ibu kandung El Mubarak. Ia sangat menyayangi anaknya namun ia tipe orang yang mudah tersulut emosi hanya karena hal kecil. Sebelum mengandung si jabang bayi yang kini ada di perutnya, ia tidak begitu pemarah. Namun sekarang meningkat dua kali lipat. Bahkan pada hal sepele saja yang salah satunya ketika El lupa menutup pintu rumah sewaktu baru pulang bermain Nayla akan menjerit dari kamarnya kepada El untuk menutup pintu. Sungguh pemandangan yang menyedihkan. Faktanya memang hal ini banyak terjadi di masyarakat.

Bukankah kepada anak usia golden age tidak boleh menggunakan suara yang tinggi? Bentakan? Karena hal ini bisa berdampak kepada mental dan psikisnya. Pada masa ini harusnya orang tua berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang anak dalam menghadapi tiga pondasi utama dalam berhubungan. Hubungan dengan Allah Subhanahu Wata’ala, hubungan dengan keluarga dan hubungan dengan masyarakat. Tiga poin ini akan membentuk karakter anak dalam menyalurkan emosi, rasa peduli dan rasa kasih sayang. Jika terlalu sering melarang anak bahkan dengan bentakan tanpa menjelaskan titik kesalahannya di mana, maka anak akan mengembangkan rasa bersalahnya yang justru berdampak pada ketidakpercayaan dirinya berkurang. Dampak lainnya anak juga jadi pemalu dan tidak kreatif lagi. 
..........................
Kisah lengkap "Titik Balik Belajar El" dapat anda baca di buku Membumikan Literasi.
Membumikan Literasi.


Posting Komentar untuk "Titik Balik Belajar El"