Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengawal Literasi dari Taman Baca Sederhana, hingga Akreditasi Perpustakaan Desa

 “Keberadaan Sanggar Studio Biru menjadi ‘ruh’ lahirnya kembali Perpustakaan Desa Sumberharjo dan terbentuknya kepengurusan Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca tingkat Kecamatan Prambanan. Dan Mas Rendra semakin menguatkan kiprahnya sebagai sosok yang ingin terus mengabdi dimanapun ia berada, dengan semboyan ‘Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe’.”

- Rendra Suparmadi -

Mengawal Literasi dari Taman Baca Sederhana, hingga Akreditasi Perpustakaan Desa

Ia bukan nabi atau manusia pilihan Tuhan
Ia bukan dewa yang memiliki kekuatan
Tapi, ketika bertemu dengannya, Kami merasa mendapat titipan indah dari Tuhan

Kicauan burung-burung yang bersahutan bersenda gurau di bukit itu
Berpadu dengan awan yang berjalan hilir mudik tertiup angin
Di antara rimbunnya dedaunan ketika musim penghujan, dan
Di bawah teriknya sinar matahari ketika kemarau panjang
Ia  menemukan Kami

Tatapan lugu Kami bertemu dengan ia yang apa adanya
Senyum dan tawa canda Kami berhadapan dengan ia yang terbuang

Ia menemukan dirinya di dalam diri Kami, 
Katanya:
Senyum Kami adalah senyumnya
Gembira Kami adalah gembiranya, 
Tapi …
Sedihnya jangan jadi duka Kami, 
murungnya jangan Kami tahu.

Puisi sederhana di atas mungkin takkan pernah ada bila Mas Rendra tidak berada di tempat ini, di Bukit Ripungan Sengir, Sumberharjo, Prambanan Yogyakarta. Sebuah kampung yang mungkin tak pernah diharapkannya sebelumnya, membayangkannya pun tidak. Mungkin alam bawah sadarnya yang menuntunnya untuk berpetualang, datang ke tanah ini yang beberapa waktu lalu, tepatnya 27 Mei 2006, saat Yogyakarta mengalami bencana gempa bumi. 

Kehadiran Mas Rendra di kampung ini mengajakku untuk kilas balik mengingat tokoh superhero yang menjadi kesukaanku, superman, spiderman, batman, dan lain-lain. Atau Film petualangan luar angkasa “Lost in Space” yang sangatku suka walau bercampur rasa takut ketika menontonnya. Mungkin juga buku kisah heroik Si Willem Tell pejuang kemerdekaan bangsa Swiss, bisa juga Si Kera Sakti Sun Go Kong atau Naruto.

Menjadi “malaikat” atau menjadi “rasul” di Bukit Ripungan itulah yang kudengar ketika orang-orang menyebut Mas Rendra. Kata-kata yang sepertinya guyonan, padahal itulah kenyataannya. Bagaimana tidak, ia berada di suatu tempat yang belakangan ia menyadarinya bahwa inilah tempat yang ia bisa belajar dan melakukan banyak hal dan itu seolah-olah sudah tersedia di depannya.

Lebih lengkap tentang kisah Mas Rendra akan kuceritakan berikut ini.

Mulanya, sebagai warga pendatang Mas Rendra tidak membawa kemegahan, kemewahan ataupun jabatan. Ia hanya tampil sebagai warga biasa pada umumnya di kampung itu. Mas Rendra pun tidak boleh berperilaku menyimpang, apapun bentuknya. Tugasnya adalah bagaimana menjalani kehidupan sebaik mungkin di kampung orang. 

Waktu berlalu, suatu ketika Mas Rendra kembali terusik dengan misi dunia pendidikan nasional di negara ini yang menjadi keresahannya sejak lama. Kemudian ia merasa mendapat kesempatan untuk mewujudkannya di bukit terpencil ini, walau dengan sesuatu yang sederhana, mungkin ini lebih masuk akal dibanding ia unjuk rasa jogging ke Istana Negara di Jakarta dengan membawa beberapa lembar kertas berisi buah pikirannya tentang dunia pendidikan nasional di negara tercinta ini, yang tentunya membutuhkan biaya dan waktu ekstra.

Kemudian Mas Rendra mendirikan Taman Baca Masyarakat Sanggar Studio Biru. Sanggar itu ia jadikan tempat bagi anak-anak dan remaja untuk belajar, bermain, bercanda, berekspresi, berkarya, dan membuat ia merasa lebih dekat dengan alam sekaligus sebagai tempat untuk melupakan peristiwa bencana gempa tersebut. 
...................
Kisah lengkap "Mengawal Literasi dari Taman Baca Sederhana, hingga Akreditasi Perpustakaan Desa" dapat anda baca di buku Membumikan Literasi.
Membumikan Literasi.


Posting Komentar untuk "Mengawal Literasi dari Taman Baca Sederhana, hingga Akreditasi Perpustakaan Desa"