Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jalan Sang Srikandi

 "Benar saja, upaya pertama dengan membawa puluhan buku ke TK dan SD yang dekat dengan Perpustakaan Mawar yang dekat dengan mata. Kurang kerjaan, tidak ada manfaat dan buang waktu kata orang-orang."

-Karis Rosida-

Jalan Sang Srikandi

Siapa yang tidak mengenal sosok Srikandi dalam pewayangan negeri ini?
Srikandi sebagai penggambaran perempuan kuat, tangguh, mandiri, tegas, dan berani. Karakternya menjadi percontohan model yang seharusnya dimiliki oleh perempuan Indonesia sejak dulu hingga sekarang. Ikon yang tetap relevan di masa kini, bahkan kita sering mendengar istilah Srikandi digunakan orang-orang untuk menyebut perempuan yang memenuhi kriteria karakter tersebut dalam berbagai bidang. Nah, kali ini kita akan bercerita tentang seorang Srikandi dalam literasi dunia.

Perempuan itu bernama Rini Nurawati, atau biasanya disapa Mbak Rini. Ia berasal dari Kelurahan Klemunan Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar, di Bumi Bung Karno. Perjalanannya di pendidikan formal hanya sebatas Sekolah Dasar (SD). Memang sebelumnya harus mengikuti sekolah yang ditetapkaningkat SMP, namun harus terbang ke Batam mengais rupiah sebelum lulus. 

Mulanya melihat banyak orang di sekitarnya seputar literasi. Bukannya ikut terhanyut dalam lelap, perempuan berusia empat puluh lima tahun ini justru memilih membuat terobosan baru. Ia sudah sengaja mencemplungkan diri ke dunia yang sama sekali belum pernah dikenalnya. 

Niatnya itu benar-benar menemukan jalan ketika suatu hari Bapak Lurah mengumumkan kepada orang-orang yang aktif di kegiatan masyarakat, termasuk dirinya, bahwa ada undangan dari Surabaya. Bapak Lurah tidak mengadakan acara apa yang ada dalam undangan tersebut, sehingga tidak ada seorang pun yang mau diberangkatkan. Buang-buang waktu saja, kata mereka.

Akhirnya dari semua orang yang ada, Mbak Rini yang mau mengajukan diri untuk ikut diberangkatkan. Berbekal rasa penasaran yang tinggi dan haus akan tambahan ilmu baru, ia akhirnya berangkat. Sesampainya di sana, baru ia berkenalan dengan istilah literasi. Karena layanan acara tersebut diselenggarakan oleh Perpustakaan sebagai Sosialisasi Program Strategi Pengembangan Perpustakaan dan Pemanfaatan TIK untuk Peningkatan sebagai Wujud Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial. Tujuan dari acara tersebut adalah mendorong para pesertanya untuk melakukan perubahan yang meningkatkan dampak besar terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Tidak ada istilah minder dalam kamus hidup Rini. Saat peserta lain dalam acara itu sudah menguasai teknologi dan terlihat tingkat pendidikannya dari tutur bahasa Indonesia yang diucapkan, ia peduli dengan dirinya yang masih awam. Yang ada hanya rasa ingin tahu terus-menerus terhadap apa yang disampaikan pemateri dan mendorongnya aktif sepanjang kegiatan, sampai mendapat poin keaktifan peserta terbanyak.

Sepulang dari Surabaya, barulah ia memahami bahwa ternyata ada bidang literasi yang menarik hati. Hal itu sangat terbuka untuk dibuka dengan luas melalui literasi. Sebab, literasi bisa menjangkau semua bidang lain seperti ekonomi, agama, budaya, dan seterusnya. Dengan kata lain, bila menyebut literasi, tidak akan berputar pada minat baca saja melainkan jauh lebih besar lagi di berbagai lini kehidupan.

Hal yang baru harus disertai semangat yang baru. Dari sini diperkenalkan dengan ruangan yang berada di pojok timur Kantor Kelurahan Klemunan. Didapatinya buku buku ruangan yang kelak akan menjadi tempat berkembangnya sebagian kehidupan. Adalah Perpustakaan Mawar, nama cantik anggun, dan memiliki kekuatan luar biasa. Beberapa tahun lalu saat menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita) kerap mengunjungi perpustakaan di negara-negara Hongkong yang begitu bagus. Masih jauh dibandingkan perpustakaan yang akan dikelolanya.

....................

Kisah lengkap "Jalan Sang Srikandi" dapat anda baca di buku Membumikan Literasi.
Membumikan Literasi


Posting Komentar untuk "Jalan Sang Srikandi"