Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Misteri Sudut Senja: di Antara Kibaran Cahaya Sang Pewarna

 “Ketika perpustakaan tidak banyak buku, maka Pak Yusuf melalui idenya membuat sudut baca kelas, hampir semua kelas, ruangan laboratorium, masjid, kantin, kantor, dan seluruh sisi sekolah ada sudut baca. Kami bersama-sama diperkenalkan dengan program Infak Buku. Meminta ke wali murid, guru, masyarakat umum, alumni, sehingga lambat laun jumlah buku di sekolah kami semakin meningkat.”

- Yusuf Ali Putro - 



Sudut senja masih terlihat kemuning, di antara dahan dan ranting yang mulai mengering. Di ruang perpustakaan sekolah, Raina dan Lukman sedang membolak balik buku yang berserakan di atas meja. Dua mahasiswa Unesa yang sedang melaksanakan PPL di SMPN 9 Gresik itu terlihat serius mencari data.

“Kuncinya ada di meja, nanti tolong dikunci, ya!“ Ucap Bu Guru Diyah sambil meninggalkan mereka di dalam ruang perpustakaan. 

“Siap, Bu.” Ujar Raina dan Lukman kompak,  sembari menganggukkan kepala, masih dengan pertanyaan yang tak jelas terlintas di kepalanya. 

Mereka berdua terus membolak balik buku di antara rak dan almari perpustakaan. Sejak tadi pagi mereka berdua belum beranjak meninggalkan ruang perpustakaan sedikitpun.

Sudah 6 jam lamanya mereka mundar mandir mencari sesuatu di perpustakaan itu. Hingga pukul 16.00 mereka pun merasa lelah juga. 

“Kita sudah 6 jam di sini, tapi tak ada data yang bisa kita temukan tentang Pak Maestro, seperti yang diceritakan Pak Jack Parmin, dosen kita.” Ujar Raina.

“Ya, begitulah. Aku sudah menanyakan ke beberapa guru tapi tak ada yang mengenalnya. Jangan-jangan kita belum menanyakan secara jelas siapa nama sebenarnya. Apa besok kita mencari lagi data-data guru yang pernah membawa prestasi di bidang literasi sekolah ini?”

“Boleh juga usulmu, Rain. Kita pulang saja hari ini sambil mencoba browsing nama Pak Maestro di internet, siapa tahu ada yang kenal!” Usul Lukman.

Mereka pun bergegas meninggalkan perpustakaan,  dengan merapikan buku-buku yang mereka baca sebelumnya. Masih dengan pertanyaan yang sama, sepanjang jalan pulang mereka masih mendiskusikan siapa sebenarnya Sang Maestro yang dimaksud dosennya. Padahal sepengetahuan mereka, tidak ada prestasi yang tampak membanggakan selama 2 bulan mereka melaksanakan PPL di sekolah ini. Hanya belajar, dan belajar saja. Kegiatan literasi di luar mata pelajaran juga tidak terlihat sama sekali. Jangan-jangan ini hanya kisah fantasi yang dikarang dosennya agar mereka mau mengembangkan literasi di sekolah ini.

“Aneh, ya! Selama 2 bulan kita PPL di sini tak ada yang aneh. Ini sekolah biasa, seperti sekolah lainnya, hanya  belajar dan belajar. Tak ada yang menonjol sama sekali. Lalu, apa yang menyebabkan dosen kita meminta belajar ke guru di sini, ya? Apalagi wilayah Balongpanggang ini termasuk wilayah pedesaan, tak banyak teknologi masuk di sini, juga tak ada toko buku satu pun. Bagaimana mungkin sekolah menjadi rujukan di bidang literasi? Apalagi masyarakatnya lebih banyak bekerja sebagai petani. Sama sekali tak ada modernitas di sini!” Ujar Lukman yang disambut perpisahan mereka berdua di persimpangan jalan.

Esok pagi, ketika sinar mentari masih belum menunjukkan wajahnya di ufuk timur, mereka berdua sudah berada di depan pintu gerbang sekolah. Sambil mengucapkan salam, senyum, dan sapa sebagai simbol sentral di sekolah ini, mereka mencoba melakukan investigasi ke siswa dan guru. Seperti yang telah mereka rencanakan semalam.

Siapa tahu, saat mereka melakukan 3S (salam, senyum dan sapa), ada guru atau siswa yang kemudian menunjukkan salam literasi, dengan menunjukkan simbol jari telunjuk dan ibu jari membentuk huruf “L”, lalu mereka senyum. Bila ada, pasti dia sebagai guru yang dimaksud dosennya. Atau jika ada siswa yang melakukan itu maka siswa ini pasti mengetahui biodata guru yang dimaksud. Karena dia mencintai literasi.

Satu menit, dua menit, 10 menit, 20 menit sampai 30 menit, tak ada yang menunjukkan gelagat literasi. Hanya senyum, dan saling sapa yang mereka temukan. Hingga bel berbunyi, rencana mereka tak terbukti. Akhirnya, dengan berbisik Lukman berkata, “Ini hoax. Pak Jack Parmin pasti bohong tentang kemajuan literasi di sekolah ini”.

“Ya, sepertinya begitu. Tak seperti yang ia ucapkan. Tak ada tanda budaya literasi di sekolah ini.” Jawab Raina ketus. 

Mereka pun melanjutkan aksinya menuju ruang kelas dan kantor. Sepanjang jalan tak ada siswa yang duduk di depan kelas melakukan kegiatan literasi dengan membaca buku. Semua siswa hanya asyik makan sambil bercanda gurau. Guru-guru pun sedang berdiskusi di ruang guru. Tak ada satu pun dari mereka yang membaca buku, apalagi menulisnya.

“Ini rencana kedua juga gagal. Tak ada yang membaca buku. Bagaimana sekolah ini dikatakan sekolah literasi, ya? Tak ada buku, tak ada yang mencintai buku, ketika jam istirahat maupun sebelum masuk sekolah. Mereka terlihat memegang buku hanya ketika sedang belajar di kelas,” ucap Raina ketika sampai di ruang perpustakaan sambil meletakkan tasnya.

“Lalu, apa solusi kita, Rain?” 

Beberapa menit mereka terdiam, karena mengalami kebuntuan atas teka teki yang dosen mereka berikan. Kemudian, tanpa sengaja Lukman melihat ada buku di atas almari yang sudah kusam dan berdebu. Lukman pun segera lari mengambil buku itu, dan tertulis jelas “SMPN 1 Balongpanggang”, Buku Antologi Awan dan Ranting Karya Siswa SMPN 1 Balongpanggang.  Dengan berjalan pelan-pelan, Lukman memikirkan buku ini. 

“Apa yang kamu pegang, Man?” Tanya Raina penasaran.

“Ini ada buku karya siswa, tapi milik siswa SMPN 1 Balongpanggang. Bukan SMPN 9 Gresik. Di mana, ya, SMPN 1 Balongpanggang itu?”

Dari kejauhan, Bu Guru Diyah yang sejak kemarin melihat gelagat aneh mahasiswa ini tersenyum tipis. Senyumnya pun terpotret oleh Raina saat memandangnya.

“Bu Diyah, kenapa tertawa? Kami aneh, ya?” Tanya Raina sambil senyum kecut.

Bu Guru Diyah  pun menemui mereka yang terlihat kebingungan sejak kemarin. Di depan mereka, Bu Guru Diyah kemudian mengambil buku dari tangan Lukman.

“Ada apa? Kenapa kalian murung dari kemarin? Aku lihat kalian kayak Detektif Conan yang gagal aja. Muter saja tanpa jelas apa maunya,” ucapnya sembari duduk di depan mereka.

Raina pun mencoba menjelaskan, “Begini, Bu, saya dan teman-teman sejak 2 bulan yang lalu ketika mengambil PPL di SMPN 9 Gresik sebenarnya mendapatkan tugas untuk belajar literasi di sekolah ini. Karena sekolah ini menjadi sekolah model literasi terbaik di Gresik, bahkan sampai tingkat nasional.”

“Lalu,” sela Lukman, “Dua bulan lamanya kami PPL, tak ada sesuatu yang tampak istimewa. Sekolah ini sama saja dengan sekolah lain, begitu juga literasinya, tak terlihat sama sekali. Saya sudah membaca seluruh buku, membuka semua majalah, koran, dan klipping, tak ada satu pun yang menunjukkan literasi di sekolah ini,”  sambil memegang kepalanya.

..........

Kisah lengkap Misteri Sudut Senja: di Antara Kibaran Cahaya Sang Pewarna dapat anda baca di buku Para Pejuang Literasi





Posting Komentar untuk "Misteri Sudut Senja: di Antara Kibaran Cahaya Sang Pewarna"