Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sigupai Mambaco: Dari Motor Hingga Dilirik Oleh Pustaka Daerah

Sigupai Mambaco  Dari Motor Hingga Dicari Oleh Pustaka Daerah

Penulis: Nita Juniarti
Ditulis dalam rangka mengikuti Lomba Menulis Kisah Inspiratif Perpustakaan Desa dengan tema Dari Desa Membangun Bangsa

Aceh Barat Daya, salah satu kabupaten yang memiliki satu perpustakaan daerah yang menyediakan buku bacaan dengan beberapa perpustakaan desa sebagai penunjang. Perpustakaan tersebut buka dari jam 08.00 WIB s.d. 14.30 WIB dan terbatas sekali untuk berkunjung. Sejauh ini, hanya ada satu TBM (Taman Baca Masyarakat) yang terdaftar di Kemendikbud untuk TBM di Aceh Barat Daya. Tingkat keinginan membaca masyarakat sudah baik, namun belum didukung oleh sarana yang memadai dan selalu bisa diakses setiap saat. Maka Sigupai Mambaco mencoba untuk mengambil peran membuat masyarakat senang pada bacaan yang berkualitas. Pendidikan yang berkualitas tentu saja merupakan hasil dari prestasi masyarakatnya dan didukung dengan baiknya kualitas sarana dan prasarana yang tersedia, termasuk taman baca atau perpustakaan.  

Pengembangan kualitas pendidikan salah satunya bisa dilakukan melalui perbaikan literasi. Oleh karena itu, Sigupai Mambaco ikut bekerja untuk mengambil peran tersebut. Ide dari membuat Sigupai Mambaco ini terinsipirasi dari kegiatan Nita yang aktif di Pustaka Ransel setelah menyelesaikan S1. Pustaka Ransel merupakan kegiatan kerelawanan yang membawa buku-buku dalam ransel ke pelosok Aceh, khususnya wilayah Aceh Besar dan Banda Aceh pada tahun 2015-2016. 

Faktor lain adanya Sigupai Mambaco adalah ketika Nita bertugas di Banggai Sulawesi Tengah, menemukan fakta bahwa ada orang desa yang mengelola perpustakaan untuk kebutuhan pengetahuan masyarakat dengan suka rela. Nita juga melihat kegiatan Penyala Banggai, anak muda yang bergerak membuka minggu membaca di RTH Lalong, Banggai Sulawesi Tengah. Pengalaman tersebut membuat Sigupai Mambaco hadir di Aceh Barat Daya. Karena terbatasnya kemampuan finansial dalam pengembangannya, taman baca masyarakat Sigupai Mambaco belum mampu memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat sebagaimana fungsinya, sebagai sarana pendukung pengembangan pendidikan dan kebangkitan literasi.

Sigupai Mambaco hadir karena keinginan dari pengurusnya agar buku koleksi pribadi tidak untuk dibaca oleh kalangan keluarga sendiri dan juga untuk memperkenalkan kepada masyarakat bahwa membaca tidak harus di ruangan tertutup dan sunyi namun juga bisa dipantai, di sekolah, di rumah, di halaman atau tempat lainnya. Nama Sigupai Mambaco dibuat berdasarkan pemikiran, Sigupai merupakan icon padi yang ada di Aceh Barat Daya salah satu gelar Aceh Barat Daya juga, sedangkan mambaco berasal dari bahasa Aneuk Jamee yang menjadi lingkungan tinggal pengurus yang bearti membaca. Secara harfiah Sigupai Mambaco berarti “Aceh Barat Daya membaca”. 

Sigupai Mambaco adalah sebuah taman baca masyarakat. Awalnya, kegiatan di Sigupai Mambaco hanya mengajak masyarakat Aceh Barat Daya untuk membaca bersama setiap Hari Minggu sore. Kegiatan ini hanya menggelar buku di tepi pantai selama satu jam setiap minggunya. Buku juga koleksi pribadi dan siapa saja yang ingin bukunya dibaca oleh orang lain. Sigupai Mambaco pertama sekali beroperasi pada tanggal 7 Januari 2018. Sigupai mambaco diinisiasikan oleh Nita Juniarti dan dibantu oleh Randa Zahrial. 

Awalnya, buku dibawa dengan motor dan mengelar tikar lalu menyusun buku-buku untuk dibaca di Bukit Hijau. Seiring berjalannya waktu, akhirnya lapak buku ini pindah ke pinggir pantai tepatnya di Dermaga Susoh, karena di sana orang yang datang lebih ramai. Akhirnya, pada April 2018 Sigupai Mambaco bekerjasama dalam proyek Pijar Ilmu Astra Asuransi sehingga mendapatkan fasilitas berupa becak lengkap dengan gerobaknya sehingga buku yang dibawa bisa lebih banyak. Setelah setahun, Sigupai Mambaco terlibat di Pustaka Bergerak dan melaksanakan pertukaran buku dengan beberapa pihak yang terlibat di Pustaka Bergerak Indonesia.  

Pada Desember 2018, Sigupai Mambaco tidak hanya di pantai namun dicoba buka di rumah Nita, gerobak diletakkan di halaman rumah dan buku ditata sedemikian rupa, adapun anak-anak membaca di samping rumah. Program ini berjalan hingga hari ini, jika tidak ada di pantai maka Sigupai Mambaco ada di rumah tepatnya di Jalan Rawa Sakti nomor 82, Dusun Kulam Tuha Desa Tangah Rawa kecamatan Susoh. Selain kegiatan mambaca, Sigupai Mambaco menjalankan kegiatan menceritakan kembali hasil bacaan, lomba mewarnai, lomba menulis surat dan minggu Inspirasi yang diisi oleh sukarelawan sehingga anak-anak berminat untuk terus mendatangi Sigupai Mambaco.

Sigupai Mambaco mencoba mengambil peran demikian, atas dasar bahwa pendidikan adalah tanggung jawab semua pihak, pengurus Sigupai Mambaco yang saat ini berjumlah enam orang memutuskan untuk ikut terlibat dalam peningkatan mutu pendidikan. Tahun 2019 lalu, Sigupai Mambaco mempunyai 5 orang fasilitator namun karena kesibukan kuliah di Kota Banda Aceh maka pengurusnya berganti pula dan bertambah satu orang yang tidak rutin.  

Ide yang berangkat dari membawa buku dengan motoran lalu dengan becak akhirnya dibuat menjadi menetap di rumah sebagai taman baca masyarakat di sekitar pemukiman rawa ini ternyata sudah bertahan hingga 2020. Program kegiatan yang dibuat bermacam-macam dengan dana swadaya dan sukarelawan dari teman-teman yang ingin membantu. Kegiatan membaca, menceritakan kembali, berdiskusi, mewarnai, berdogeng, belajar bahasa arab atau hal lainnya menjadi rutin begitu juga dengan kegiatan pengenalan sampah dan pemilahannya. Kegiatan tersebut sering diposting di media sosial sehingga membuat tertarik beberapa kenalan yang ingin menuliskan tentang kegiatan sosial ini. Akhirnya, kegiatan yang dilakukan oleh Sigupai Mambaco disorot oleh perpustakaan wilayah.

Pada juli 2020, 6 orang petugas perpustakaan Daerah datang ke Sigupai Mambaco dan merasa kesulitan mencari di mana letak sigupai mambaco, referensi mereka hanyalah informasi di media sosial. Petugas tersebut mencari keberadaan Sigupai Mambaco sebagai mitra terhadap perpustakaan. Setelah berjuang beberapa tahun akhirnya tanpa diminta ternyata Sigupai Mambaco telah menarik perhatian Perpustakaan Daerah (PERPUSDA).

Perjuangan tersebut belum berakhir, Sigupai Mambaco mendapatkan tawaran untuk menerima bantuan pemerintah tentang TBM Rintisan tingkat nasional hanya saja persyaratan yang dibutuhkan sangatlah banyak dan membutuhkan banyak dana juga untuk pengurusannya. Ketika pengurus mendatangi kepala desa, kepala desa hanya bisa memberikan dukungan berupa surat domisili bukan pendanaan, begitu juga dengan kecamatan dan dinas pendidikan setempat. Pengurus berusaha untuk mendaftarkan diri dengan membuat proposal, keuangan dibantu oleh teman-teman yang patungan secara sukarelawan. Saat ini, belum ada perhatian pemerintah sehingga harus berjuang secara swadaya.

Buku-buku Sigupai Mambaco diperoleh DARI donasi pribadi, membeli dengan uang pribadi dan juga dengan cara mengikuti lomba-lomba yang berkaitan dengan literasi. Beberapa kali Sigupai Mambaco memenangkan kompetisi tingkat nasional untuk memperoleh buku-buku baru untuk dibaca sebab sejauh perkembangan Sigupai Mambaco minat baca pengunjung sangatlah tinggi terutama di kalangan anak-anak sehingga dibutuhkan banyak buku anak. Kadangkala juga membuat praktek beberapa hal dari buku yang tersedia di Sigupai Mambaco.

Selama Covid-19 Sigupai Mambaco membuka peluang untuk peminjaman dalam rangka mematuhi phisical distancing dan juga mengadakan kegiatan virtual seperti bincang asik (BiSik) melalui Instagram Live dan Mahota Buku (MaBuk) program review buku melalui instagram live juga. Kegiatan tersebut selalu didukung secara swadaya oleh beberapa individu. Meski demikian, kegiatan tetap berjalan dan terus menyebarkan virus literasi dikalangan masyarakat dengan semua keterbatasan yang ada.
Dokumentasi Kegiatan Sigupai Mambaco

Dokumentasi Kegiatan Lapak Buku Sigupai Mambaco

Gerobak Pustaka Keliling Sigupai Mambaco


BIODATA PENULIS


Nama saya Nita Juniarti, saya dilahirkan di Desa Tangah Rawa Susoh pada tanggal 9 Juni 1993. Menyelesaikan S1 di UIN Ar-Raniry Banda Aceh Fakultas Adab jurusan Sejarah Kebudayaan Islam. Saya dapat dihubungi di Nomor 085260069856, email: Nitajuniarti@rocketmail.com.

3 komentar untuk "Sigupai Mambaco: Dari Motor Hingga Dilirik Oleh Pustaka Daerah"

  1. mantap sangat mantap. semoga maju terus. dengan membaca seolah kita bisa menelan dunia
    sukses selalu wahai sigupai membaco.

    BalasHapus
  2. Luar biasa pergerakannya KK. Sukse selalu sigupai

    BalasHapus