Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pustaka Kencana untuk Indonesia: Kenalkan Literasi dari Sekolah hingga Tempat Prostitusi

Pustaka Kencana untuk Indonesia: Kenalkan Literasi dari Sekolah hingga Tempat Prostitusi

Penulis: Eko Prasetyo
Ditulis dalam rangka mengikuti Lomba Menulis Kisah Inspiratif Perpustakaan Desa dengan tema Dari Desa Membangun Bangsa

Apa sih Pustaka Kencana itu? Pustaka Kencana adalah salah satu perpustakaan yang memberikan layanan bacaan buku kepada anak-anak dan masyarakat. Pustaka Kencana terletak di Kampung Umpu Kencana, Kecamatan Blambangan Umpu, Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung. Masyarakat setempat juga sering menyebut Pustaka Kencana sebagai Perpustakaan Umpu Kencana karena perpustakaan ini terletak di tengah-tengah perkampungan. Lalu apakah arti dari Kencana? Secara harfiah kencana berarti emas. Saya sengaja memberi nama Pustaka Kencana dengan harapan agar komunitas perpustakaan yang saya kelola bisa memiliki nilai kebermanfaatan yang tinggi bagi masyarakat, sebagaimana emas yang nilainya sangat tinggi dan mahal sehingga diburu oleh banyak orang. Selain itu nama kencana juga saya ambil dari nama kampung saya yakni kampung Umpu Kencana. Tak jauh dari tempat saya tinggal, terdapat sebuah kali/sungai kecil yang bernama Kali Mas. Dulu banyak sebagian masyarakat yang menambang emas secara tradisional di Kali Mas, tetapi karena eksplotasi yang berlebihan maka Kali Mas sudah tidak ada air yang mengalir. Itulah sedikit silsilah dan cerita tentang nama Kencana yang saya gunakan untuk menamai Komunitas perpustakaan ini. 

Dulu, awal mula saya merintis Perpustakaan Kencana dimulai pada tahun 2010. Saat itu saya kebetulan adalah ketua karang taruna di kampung. Dalam melaksanakan program karang taruna, salah satu kegiataanya adalah program pendidikan dengan penyedian akses bacaan bagi anak-anak dan masyarakat yang berada di kampung Umpu Kencana. Bersama dengan teman-teman pemuda kala itu, kami saling gotong royong mengumpulkan buku-buku dengan meminta donasi buku bekas dari rumah ke rumah. Alhasil terkumpulah buku yang jumlahnya hanya beberapa puluh eksemplar. Dari buku yang terkumpul kemudian kami buatkan rak mini dan kami tempatkan di salah satu ruangan balai kampung, sehingga jadilah semacam perpustakaan yang lumayan representatif untuk kegiatan layanan membaca buku. Setiap hari dengan menerapkan jadwal piket kepada teman-teman pemuda, kami secara bergantian menunggu perpustakaan. Dimulai dari jam 10 pagi sampai jam 4 sore. Perhari minimal ada 5 orang pengunjung yang datang untuk membaca buku, meskipun ada juga yang hanya sekedar melihat-lihat saja. Paling ramai pengunjung dan pembaca adalah hari Jum’at, karena hari Jumat hamir seluruh anak-anak sekolah punya waktu istirahat yang agak panjang dan berkesempatan datang ke Pustaka Kencana. Biasanya karena sangking ramainya, ruangan menjadi penuh sesak.

Setelah berjalannya waktu, ternyata lebih banyak anak-anak yang berminat terhadap program pendidikan layanan buku bacaan di kampung Umpu Kencana itu. Maka kami memutar otak agar perpustakaan ini perlu ditambah dan dilengkapi dengan wahana belajar lain seperti perangkat komputer, alat-alat permainan edukatif serta kegiatan out-bond. Sehingga selain membaca buku, anak-anak juga bisa bermain dengan riang di Pustaka Kencana. Untuk menyediakan komputer, kami selaku pengelola perpustakaan kala itu sangat menyadari dengan kondisi finansial yang masih sangat lemah.  Sebab untuk membeli komputer, membutuhkan dana yang tidak sedikit. Setelah dilakukan musyawarah dengan teman-teman pengelola, kami berinisiatif meminjamkan laptop pribadi milik teman-teman pengelola yang akan digunakan untuk layanan belajar komputer secara gratis. Hanya ada tiga orang yang memiliki laptop. Maka dengan laptop itulah layanan belajar komputer gratis dilaksanakan. Itupun tidak setiap hari, hanya hari Jumat dan hari Minggu saja. 

Tidak hanya anak-anak atau masyarakat saja yang belajar mengoperasikan komputer, ternyata ada beberapa diantara kami pengurus Pustaka Kencana yang juga belum bisa menggunakan komputer. Sehingga adanya layanan belajar komputer itu sangat bermanfaat tidak hanya bagi masyarakat, tetapi juga pengelola perpustakaan ini. Selain itu dalam waktu 3 bulan sekali, kami mengadakan kegiatan out-bond dan lomba-lomba. Kegiatan itu dilaksanakan agar anak-anak tidak jenuh dan bosan. Seperti lomba mewarnai, lomba bernyayi, lomba menulis dan lain-lain. Bagi yang menang disediakan bingkisan sederhana berupa buku tulis, kotak pensil, penggaris dan makanan ringan sebagai hadiah agar mereka merasa senang. Ada juga dalam waktu-waktu tertentu diadakan acara makan bersama diatas lembar daun pisang yang dijejer-jejer. Acara makan bersama ini dimaksudkan agar anak-anak terpupuk rasa kebersamaan dan rasa peduli kepada sesamanya.  

Secara eksistensi, Pustaka Kencana terus berinovsi dan berkreasi melakukan gerakan-gerakan literasi di Umpu Kencana. Melihat hal tersebut, kepala desa dan aparat desa turut memberi dukungan dan bantuan baik secara moril maupun materil. Jika kami ingin mengadakan kegiatan literasi dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, kepala desa dan aparaturnya turut membantu dengan mengumpulkan kadus, RW dan RT-nya untuk mensosialisasikan. Tak jarang kami juga sering diundang dalam forum musyawarah desa yang membahas rencana-rencana pembangunan desa. Tentu kami selaku pengelola menyampaikan masukan dan usul-usul dalam rangka kemajuan perpustakaan Umpu Kencana. Pernah kami mengusulkan permintaan sarana perpustakaan berupa rak dan lemari buku, pihak desa langsung mendukung dan menyediakan rak dan lemari buku yang dibelikan melalui dana desa. 

Begitupun pada tahun-tahun berikutnya, usulan permintaan bantuan yang kami buat untuk perpustakaan Pustaka Kencana selalu direalisasikan oleh pemerintah desa. Mulai dari pembelian buku untuk tambahan koleksi buku bacaan, penyediaan meja dan kursi baca, pemasangan perangkat instalasi listrik dan lain sebagainya. Secara garis besar, adanya Pustaka Kencana di kampung Umpu Kencana sangat berdampak signifikan dalam aspek pendidikan. Selain mayoritas mata pencaharian di kampung ini adalah buruh dan petani, juga masih cukup banyak anak-anak yang belum memperoleh akses pendidikan yang layak. Ditambah lagi masih banyaknya keluarga yang hidupnya belum mapan secara ekonomi.  Di wilayah kami, tidak ada yang namanya toko buku, tidak ada yang namanya warnet. Kalaupun ada maka harus pergi ke daerah lain yang jaraknya lumayan jauh dan memakan biaya yang besar.  

Kebermanfaatan Pustaka Kencana tidak hanya dirasakan oleh kampung Umpu Kencana saja, tetapi juga dirasakan oleh kampung-kampung lain yang berada di lingkup Kabupaten Way Kanan. Ada beberapa program lain yang dilakukan oleh perpustakaan Kencana yang sasarannya adalah  masyarakat luas. Salh satunya adalah kegiatan lapak buku keliling. Lapak buku keliling ini adalah kegiatan Pustaka Kencana yang dilakukan dari satu tempat ketempat lain, dari satu kampung ke kampung lain, dari satu sekolah ke sekolah lain. Secara periodik, dengan menggunakan sepeda motor kami membawa buku-buku yang dikemas dalam kardus mengunjungi tempat-tempat umum seperti taman, pasar, sekolah, lapas, rumah sakit, masjid, bahkan kami juga pernah mengunjungi komplek prostitusi. 

Wah, kok komplek prostitusi juga? Mungkin bagi sebagian banyak orang, komplek prostitusi adalah tempat yang sangat hina yang najis sekali untuk didatangi. Karena komplek prostitusi adalah pemukiman yang dihuni (maaf) pelacur. Tapi bagi saya selaku pengelola Pustaka Kencana tidak sama sekali. Saya merasa bahwa mereka yang ada di komplek prostitusi juga merupakan manusia seutuhnya seperti kita yang memiliki hak-hak yang sama. Hak untuk memperoleh informasi dan pengetahuan, hak untuk memperoleh keadilan sosial, hak untuk memperoleh perlakuan yang sama sebagai manusia. 

Baiklah, akan sedikit saya ceritakan pengalaman saya saat membuka lapak buku di komplek prostitusi itu. Saya datang membawa buku-buku seri keterampilan, buku-buku seri kesehatan dan buku-buku lain yang disesuaikan bagi pembaca wanita. Tentu saya harus meminta izin dulu dengan ‘penjaga keamanan’ komplek agar boleh masuk dengan menyampaikan maksud dan tujuan yakni menggelar lapak buku. Sang penjaga tentu saja heran dan agak curiga sebab tidak pernah ada tamu yang datang selain ‘tamu’ pemakai jasa prostitusi. Saat itu saya diizinkan masuk dengan pengawasan yang sangat ketat dari sang penjaga. Saat saya masuk komplek pada sebuah gang kecil, saya melihat banyak bangunan yang berdinding kayu papan mirip tempat kos-kosan yang terdiri dari pintu-pintu. 

Saat itu jam 3 sore, hampir semua pintu dalam keadaan tertutup. Sang penjaga lalu mengetuk tiap-tiap bangunan yang menyampaikan maksud dan kedatangan saya kepada para penghuni komplek.  Saya mulai membuka dua buah kardus berisi buku-buku dan menggelarnya. Beberapa banyak wanita awalnya hanya berdiri di pintu ataupun hanya melihat dari balik jendela menyaksikan aktifitas saya yang sedang menggelar buku. Tak lama ada yang mulai menghampiri dan melihat judul-judul buku yang sudah digelar.  Beberapa di antara mereka ada juga yang bertanya kepada saya bukunya dijual atau tidak. Tentu saya jawab tidak karena buku yang saya bawa tidak diperjualbelikan. Saya menyaksikan mereka rata-rata mengambil buku-buku resep menu masakan dan buku-buku keterampilan kue. Beberapa mereka juga ingin meminta buku dan saya mempersilahkannya dengan harapan buku itu dapat memberi manfaat bagi mereka. Dari situlah saya berkeyakinan bahwa mereka penghuni komplek prostitusi itu juga butuh informasi dan pengetahuan yang didapat dari buku. 

Namun demikian dari kegiatan lapak buku keliling yang dilakukan Pustaka Kencana, mayoritas tempat lain yang didatangi adalah daerah-daerah pegunungan, hutan kawasan dan daerah terisolir. Di daerah kabupaten Way Kanan ini secara geofrafis letaknya memang paling jauh dari ibukota provinsi Lampung. Kontur wilayahnya terdiri dari perbukitan, pegunungan dan hutan kawasan. Dalam aktifitas lapak buku konsepnya sangat sederhana sekali. Cukup menggelar buku diatas tikar atau spanduk bekas, kemudian kami mempersilahkan siapapun untuk meminjam dan membaca buku. Seringkali jika saat membuka lapak buku di sekolah yang terpencil dan terisolir, Pustaka Kencana justru memberikan buku-buku bacaan kepada siswa secara cuma-cuma. Saya tahu persis pada beberapa kampung pedalaman, buku adalah barang langka. Buku hanya ada di sekolah, itupun buku-buku paket pelajaran yang sudah bertahun-tahun tidak dilakukan sirkulasi/pembaharuan oleh pihak sekolah karena berbagai keterbatasan akses dan kendala lainnya. 

Ada satu lagi kisah kegiatan yang dilakukan oleh Pustaka Kencana yang menurut saya sangat inspiratif dan layak saya bagikan cerita kisahnya melalui tulisan ini. Suatu hari saya dan rekan pengelola membuka lapak buku ke sebuah sekolah di daerah terpencil Way Kanan. Nama sekolah itu adalah MTs Talang Kemiling, berada di dusun pelosok terpencil melewati hutan kawasan kecamatan Kasui. Untuk menuju sekolah MTs Talang Kemiling itu tidak mudah, harus melewati jalan tanah yang kecil menanjak dan berkelok. Ditambah batu-batu besar yang harus dihindari agar motor tidak terpeleset atau terjatuh. Selain itu kami juga harus menyeberangi sungai yang tidak ada jembatnnya. Untuk dapat menyeberang sungai, kami harus naik rakit bambu yang ditarik oleh masyarakat setempat. 

Jumlah siswa di MTs Talang Kemilimg lumayan banyak. Bangunan sekolah terbuat dari kayu yang sudah sangat rapuh dan sebagian atap asbes yang sebagian menganga karena dihempas angin. Seperti biasa, kami gelar lapak buku dan anak-anak di sekolah itu antusias memilih buku-buku yang akan dibaca. Saya pun sempatkan mengobrol dengan guru di MTs itu. Dari penyampaian guru itu, sudah puluhan sejak berdiri sekolah MTs Talang Kemiling tidak pernah dilakukan perbaikan. Kerusakan bangunan pada bagian atap menyebabkan bocor saat turun hujan. Kegiatan belajar mengajar pun menjadi terganggu jika diteruskan saat hujan, buku untuk mereka menulis seringkali basah akibat tempias air hujan. 

Rata-rata pekerjaan orangtua  siswa yang bersekolah disitu adalah buruh pemetik lada atau buruh penyadap getah karet dengan penghasilan yang rendah. Guru di Mts Talang Kemiling juga menceritakan bahwa tidak ada toko atau penjual alat tulis di dusun itu. Jika ada anak-anak yang kehabisan pensil atau buku, terpaksa berbagi kertas untuk menulis dan memotong pensil mejadi tiga bagian untuk dibagi ke murid-murid sesamanya. Mendengar penuturan guru itu, saya dan teman-teman Pustaka Kencana berinisiatif membuat kegiatan yang barangkali dapat menggugah pihak luar agar dapat memberikan support bantuan kepada sekolah itu. 

Saya dan teman-teman membuat kegiatan “Menulis Surat Untuk Presiden” bersama murid-murid di MTs Talang Kemiling. Anak-anak menulis surat yang berisi harapan dan keinginan masing-masing mereka. Ada yang menulis surat ingin dibuatkan ruang kelas, ada yang meminta tas, ada yang minta seragam baru, ada juga yang minta bola kaki. Rata-rata mereka menginginkan perbaikan fasilitas dan sarana sekolah yang sudah sangat memprihatinkan.  Dibantu teman-teman, kegiatan “Menulis Surat Untuk Presiden” itu kami upload lewat media sosial seperti Facebook. Beberapa wartawan juga menghubungi saya atas postingan kegiatan “Menulis Surat Untuk Presiden” itu. Alhasil informasi tentang keprihatinan kondisi anak-anak di MTs Talang Kemiling itu beredar dan viral. 

Tak lama setelah viralnya kegiatan “Menulis Surat Untuk Presiden” itu, banyak pihak yang ingin meninjau dan melihat langsung kondisi sekolah itu. Ada pihak utusan dari Kapolda Lampung yang kemudian memberikan bantuan seragam, tas beserta alat tulis untuk seluruh siswa di MTs Talang Kemiling. Ada juga utusan dari DPR RI yang setelah mensurvei sekolah, kemudian membangun sekolah permanen berdinding bata semen, berlantai keramik lengkap dengan meja dan kursi belajar. Ditambah juga dari pihak Pemerintah Kabupaten Way Kanan yang membantu akses pembangunan jembatan menuju lokasi sekolah itu. Harapan dan asa anak-anak di MTs Talang Kemiling yang ditungkan dalam surat dalam kegiatan “Menulis Surat untuk Presiden” yang mereka tulis itu akhirnya menjadi kenyataan. Kini mereka dapat belajar dan mengenyam pendidikan dengan layak sebagaimana sekolah-sekolah lainnya.

Demikianlah sekelumit kisah dari Pustaka Kencana, barangkali bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman pengelola perpustakaan. Saya yakin, masih banyak komunitas dan perpustakaan yang kisahnya lebih hebat dari ini. Teruslah bersemangat bergiat di perpustakaan. Bergiat bukan karena ‘ada apanya’, tapi bergiatlah ‘apa adanya’. Bergiatlah untuk Indonesia. 

Pustaka Kencana untuk Indonesia: Kenalkan Literasi dari Sekolah hingga Tempat Prostitusi
Dokumentasi Kegiatan Pustaka Kencana

Pustaka Kencana untuk Indonesia: Kenalkan Literasi dari Sekolah hingga Tempat Prostitusi
Gedung Pustaka Kencana

Pustaka Kencana untuk Indonesia: Kenalkan Literasi dari Sekolah hingga Tempat Prostitusi
Dokumentasi Kegiatan Pustaka Kencana

Biodata Penulis


Eko Prasetyo, dilahirkan di Lampung pada 10 Juni 1987. Penulis banyak melakukan aktifitas pembudayaan minat baca di Kabupaten Way Kanan. Merintis perpustakaan sejak tahun 2010. Hobi membaca dan menulis. Prestasi yang pernah diraih antara lain; Pemenang Pertama Lomba Pengelola Perpustakaan Kampung Se-Kabupaten Way Kanan tahun 2016. Juara Pertama lomba Pengelolaan Taman Baca Masyarakat Se-Provinsi Lampung tahun 2014. Pernah juga memperoleh program Kampung Literasi dari Kementerian Desa, Pengembangan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia tahun 2019.)

Posting Komentar untuk "Pustaka Kencana untuk Indonesia: Kenalkan Literasi dari Sekolah hingga Tempat Prostitusi"