Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengelola Perpustakaan Desa Tak Semudah Menulis Buku


Kisah Suka Duka Membangun dan Mengembangkan Perpustakaan  Mata Batu (Masyarakat Cinta Baca Tulis) 

Penulis :  Irma Dewi Meilinda
Ditulis dalam rangka mengikuti Lomba Menulis Kisah Inspiratif Perpustakaan Desa dengan tema Dari Desa Membangun Bangsa

Jika berbicara soal buku, tidak akan pernah ada habisnya. Sebab buku adalah jendela dunia. Dari buku, kita bisa mengetahui berbagai hiruk-pikuk yang terjadi di dunia ini. Salah satu impian saya selain menjadi penulis dan pengusaha adalah membangun perpustakaan. Namun tidak pernah terpikirkan untuk menjadi ketua perpustakaan di tempat tinggal sendiri. Selama bertahun-tahun, saya hanya mengembangkan tulisan-tulisan dan juga aktif menjadi penggiat literasi di Lampung.

Pada tahun 2018 lalu, saya benar-benar terkejut mendapat telepon dari nomor tak dikenal setelah mendapatkan kabar tentang liputan saya di koran Tribun Lampung atas apresiasi terbitnya buku novel perdana saya yang berjudul ‘Love Story’. Ternyata pemilik nomor tak dikenal itu adalah kepala desa di tempat saya tinggal yaitu Desa Palembapang. Hari itu juga saya diminta untuk menemui beliau di kantor desa (balai desa) yang kebetulan tidak jauh dari rumah saya.

Sesampainya di kantor desa, kepala desa tidak lupa mengucapkan selamat kepada saya atas terbitnya novel tersebut. Beliau pun membeli buku saya sebagai apresiasi untuk dibaca dan juga sebagai arsip perpustakaan desa. Sejak saat itulah, ada kata kompromi untuk menjadikan saya sebagai ketua perpustakaan di Desa Palembapang yang kami beri nama Perpustakaan Mata Batu.

Perpustakaan Mata Batu adalah kepanjangan dari Perpustakaan Masyarakat Cinta Baca Tulis. Perpustakaan ini sudah lama terbentuk di Desa Palembapang Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Selatan, akan tetapi baru diresmikan pada hari Selasa tanggal 3 April 2018 dengan tema “Mencerdaskan dan Mengembangkan Kreatifitas Masyarakat Desa Palembapang Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Selatan”. Besar dan tinggal di Desa Palembapang, saya rasa tidak masalah untuk mengabdi di desa sendiri karena selama ini saya lebih aktif di desa-desa tetangga, kota Kalianda sendiri ataupun di luar kota.

Peresmian Perpustakaan Mata Batu dihadiri oleh beberapa perwakilan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lampung Selatan, Camat Kalianda, guru-guru yang mengajar dan siswa-siswi di Desa Palembapang, baik SD maupun PAUD, serta sejumlah masyarakat Desa Palembapang yang sangat antusias dalam acara tersebut. Bukan hanya itu, kami juga kehadiran beberapa penggiat literasi dan wartawan atau reporter untuk ikut memberikan ucapan selamat atas peresmian Perpustakaan Mata Batu.

Tujuan pembentukan, penyelenggaraan, dan pengelolaan perpustakaan desa ini, untuk melayani kebutuhan masyarakat desa khususnya. Dalam upaya mewujudkannya, pengurus perpustakaan menyediakan fasilitas membaca dan belajar menulis. Sehingga dengan dibentuknya Perpustakaan Mata Batu, masyarakat Desa Palembapang akan terdorong dalam minat baca dan suatu saat bisa menghasilkan tulisan yang menginspirasi pembaca dengan lebih banyak membaca dan menulis. Membaca bukan sekadar membaca dan menulis bukan sekadar menulis, tetapi memahami apa yang dibaca dan ditulis.

Sejak diresmikan Perpustakaan Mata Batu, semua berjalan sesuai program yang telah dirancang. Kerja sama dari semua pihak di desa begitu luar biasa. Kegiatan kami memang lebih sering outdoor daripada indoor, karena kami lebih memilih berkeliling dengan mobil yang dijadikan sebagai sarana untuk mengajak masyarakat agar gemar membaca, khususnya dari kalangan anak-anak. Mobil keliling tersebut kami beri nama ‘Angkot Pustaka’ karena sebagai sarana mengangkut buku-buku bacaan dengan berkeliling itu tadi.

Senyum sumringah selalu terpancar dari wajah saya kala itu. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu—beberapa program tidak berjalan dengan baik—semangat mulai menipis, karena semua pada sibuk dengan urusan masing-masing. Sedangkan saya tidak bisa menjalankan perpustakaan ini sendirian. Apalagi kesibukan utama saya adalah mengurus penerbitan buku/majalah dan juga mengemban tanggung jawab sebagai Ketua Komunitas Penulis Kreatif di provinsi Lampung yang lebih dulu saya emban dari tahun 2015, sejak lulus kuliah tahun 2014. Sinar matahari seakan redup kala itu, langit mendung menyelimuti hari-hari saya.

Meskipun demikian, Perpustakaan Mata Batu aktif dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan minat baca. Beberapa agenda tersebut di antaranya;

1) Workshop pengembangan TBM dengan tema “Banyak Membaca, Semakin Berilmu” yang diadakan di PKBM Tunas Harapan Desa Negeri Pandan pada tanggal 10 – 12 Mei 2019;


2) Study banding “Perpustakaan Desa dan TBM” yang diadakan pada hari Rabu, tanggal 26 September 2018 di Kesuma Pustaka yang terletak di Desa Tanjung Kesuma, Lampung Timur yang diadakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lampung Selatan.



Agenda-agenda jangka pendek dan panjang yang sudah kami jalankan adalah keliling tiap dusun untuk mengajak masyarakat membaca, khususnya ketika peringatan hari buku—momen yang tepat dalam menumbuhkan minat baca masyarakat pada hari spesial itu. Agenda yang paling berkesan adalah saat memperingati hari remaja pada tanggal 16 Agustus 2018—Perpustakaan Mata Batu melibatkan PKM (Pengabdian Kepada Masyarakat) dari UHAMKA Jakarta yang kebetulan sedang mengabdi di desa kami selama beberapa bulan.

Dalam kegiatan Hari Remaja Internasional itu Perpustakaan Mata Batu membuat perlombaan membaca puisi dan membaca Al-Qur’an. Bukan hanya lomba saja, tetapi kami juga mengajak masyarakat, khususnya remaja untuk secara suka rela mendonorkan darah mereka dengan tema “Setetes Darah untuk Sejuta Kebaikan.” Dan masih banyak lagi kegiatan Perpustakaan Mata Batu yang sudah dilakukan. Meskipun masih berjalan tertatih-tatih, tapi langkah kaki tak terhenti sampai di situ.

Segala asa telah diupayakan demi terwujudnya visi dan misi, akan tetapi memang tidak semudah yang dibayangkan, butuh kerja keras untuk bisa membangun sebuah perpustakaan desa menjadi tempat yang disenangi oleh masyarakat dan juga harus memiliki banyak ide untuk mengatasi setiap masalah yang dihadapi—mencari solusi dan terus berjuang demi terciptanya desa literasi. Karena visi didirikannya Perpustakaan Mata Batu adalah agar terwujudnya perpustakaan desa yang mampu memberikan layanan informasi dan pengetahuan yang efektif dan efisien.

Sedangkan misi-misi perpustakaannya yaitu mengelola perpustakaan secara profesional; penambahan koleksi maupun sumber-sumber informasi untuk pengembangan perpustakaan; mengajak masyarakat untuk giat membaca serta membimbing mereka dalam bidang kepenulisan; peningkatan layanan untuk memudahkan kecepatan dalam akses dan peningkatan fasilitas agar mudah dalam pencarian koleksi bahan pustaka; dan yang terakhir—membuat aplikasi ‘sistem informasi peminjaman dan pengembalian buku’ berbasis desktop.

Berikut ini gambar utama untuk aplikasinya yang baru 40%, karena belum sempat saya kerjakan lagi untuk mengotak-atik codingnya, disebabkan kesibukan saya yang lainnya.




Untuk koleksi buku sendiri, kami sudah memiliki sekitar 2000-an buku dan sekitar 1900-an judul buku, tetapi dengan rasa peduli terhadap sesama penggiat literasi—maka kami juga membagikan sejumlah buku kepada penggiat literasi yang lain yang juga bertujuan sama dengan Perpustakaan Mata Batu. Sampai saat ini, jumlah seluruh buku yang tersisa di rak buku Perpustakaan Mata Batu, sekitar 310 eksemplar dan 290 judul. Koleksi buku yang ada di Perpustakaan Mata Batu didapat dari membeli dan donasi, termasuk mendapatkan donasi dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lampung Selatan.

Mengelola perpustakaan desa ini ternyata tak semudah menulis. Semua memang memiliki tingkat kesulitan masing-masing. Ketika menjadi penulis dan sedang mendapatkan ide, maka tinggal tulis dan kirimkan tulisan tersebut ke media massa atau penerbit. Bisa juga ke web pribadi. Tetapi ketika menjadi pengelola perpustakaan desa, ide tidak bisa dijalankan saat itu juga, butuh perjuangan yang ekstra di dalamnya. Walaupun begitu, saya sangat menyukai keduanya. Membaca dan menulis adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Jika membaca ibarat makan, maka menulis ibarat minum.

Kantor Desa Palembapang yang juga menjadi tempat Perpustakaan Mata Batu

Kunjungan dari Dipusip Kab. Lamsel Tgl 28072020 (Pojok Baca Perpustakaan Mata Batu) - Baca Buku

Kunjungan dari Dipusip Kab. Lamsel Tgl 28072020 (Pojok Baca Perpustakaan Mata Batu)

Lomba Baca Al-Quran di Hari Remaja Internasional (Diperingati Tiap Tgl 12082018)

Memilih Buku untuk Keliling Dusun di Hari Buku Nasional 17052018

Ngabookread Perpus Matabatu bersama Angkot Pustaka dan Rekan-Rekan Risma Nurul Amal (Dsn 8 Pelita Dewa) 17052018

Ngabookread Perpus Mata Batu, KPKers Lamsel & PKM UHAMKA 07082018

Palembapang, 14 Agustus 2020

BIODATA PENULIS


Penulis bernama lengkap Irma Dewi Meilinda—lahir di Kota Kalianda, pada tanggal 12 Mei 1993. Saat ini penulis masih tinggal dengan kedua orang tuanya di Dusun II Palembapang No. 177, RT. 02/RW. 02, Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, 35551. Penulis adalah lulusan mahasiswi Perguruan Tinggi Teknokrat Bandar Lampung yang saat ini sudah berubah nama jadi Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) Lampung, Program Studi (S)ekolah (T)inggi (M)anajemen (I)nformatika dan (K)omunikasi, Jurusan (S)istem (I)nformasi, lulusan tahun 2014. Memiliki nama pena Princess Meymey. Yang kerap disapa Irma atau Meymey.

Aktivitas sehari-harinya saat ini adalah menulis dan aktif dalam kegiatan literasi. Maka tidak heran jika dipercaya untuk menjadi ketua dalam “Komunitas Penulis Kreatif (KPKers) Lampung” dan memiliki usaha penerbitan buku bernama, “Indie Digital Media (IDM) Publishing”. Tahun 2018 pun penulis ditunjuk oleh Kepala Desa (Hendryadi) sebagai kepala Perpustakaan Mata Batu (Masyarakat Cinta Baca-Tulis) di tempat tinggalnya—tepatnya di Desa Palembapang, Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, Indonesia. Hobinya adalah menulis, membaca dan pengamat sosial. Penulis perempuan ini juga seorang blogger dan youtuber.

Penulis dapat dihubungi melalui :

Facebook : Irma Dewi Meilinda
E-Mail : princess.meymey12@gmail.com
Twitter : @meymey1205
Instagram : @irmadewimeilinda

Prestasi bidang organisasi :
  1. Anggota Basket Tingkat SMP (2005 – 2008)
  2. Anggota PMR Tingkat SMP & SMA (2005 – 2011)
  3. Ketua Komunitas Penulis Kreatif (KPKers) Lampung (2015 – Sekarang)
  4. Owner/Dirut Indie Digital Media (IDM) Publishing (2015 – Sekarang)
  5. Pimpred Penerbit Harasi (2016 – 2017)
  6. Anggota Adadaya Lampung Selatan (2016 – Sekarang)
  7. Ketua Perpustakaan Mata Batu Palembapang, Kalianda - Lamsel (2018 – Sekarang)
  8. Anggota Kado (Kampung Dongeng) Lampung Selatan (2020 – sekarang)
Prestasi bidang kepenulisan :
  1. Kontributor buku “Catatan Bersampul Merah” di Penerbit Pena Merah, 2015.
  2. Kontributor buku “Cinta Suci” di Penerbit Citra Gemilang, 2015.
  3. Kontributor buku “Hujan yang Mencinta” di Penerbit Citra Gemilang, 2015.
  4. Kontributor buku “Jiwa dan Perasaan” di Penerbit Rumah Kita, 2015.
  5. Kontributor buku “Arti Keluarga” di Nokhtah Publishing, 2015.
  6. Kontributor buku “Malaikat Tak Bersayap” di Penerbit Citra Gemilang, 2015.
  7. Kontributor buku “Cinta di Bulan Ramadan” di Mawar Publisher, 2015.
  8. Kontributor buku “Saksi Cinta di Malam Lailatul Qadar” di Indie Digital Media (IDM) Publishing, 2015.
  9. Kontributor buku “Apartemen” di Penerbit Citra Gemilang, 2015.
  10. Kontributor buku “Mengungkap Tabir Bumi Khatulistiwa” di Penerbit Rumah Kita, 2015.
  11. Kontributor buku “Miracle of Love” di Dirathree Publisher, 2015.
  12. Penulis buku “Endless Love” di Penerbit Uwais, 2016.
  13. Penulis buku “Love Story” di Penerbit Uwais, 2016.
  14. Kontributor buku “Air Mata Luka” di Penerbit Harasi, 2016.
  15. Kontributor buku “Gapai Bahagiamu dengan Cinta dan Doa” di Indie Digital Media (IDM) Publishing, 2016.
  16. Kontributor buku “Peluk Aku, Aku Rindu” di Indie Digital Media (IDM) Publishing, 2016.
  17. Kontributor buku “The Rainbow of Life” di Indie Digital Media (IDM) Publishing, 2016.
  18. Kontributor buku “I Want to Be Success” di Indie Digital Media (IDM) Publishing, 2017.
  19. Puisi berjudul “Rindu Ibu”, terbit di situs https://www.lokerpuisi.web.id/, 2015.
  20. Puisi berjudul “Mungkin Kau Bukan Jodohku”, terbit di situs https://www.lokerpuisi.web.id/, 2016.
  21. Karya berjudul “Ibumu Bukan Pembantumu”, rubrik “Surat Pembaca” di Koran Lampung Post, 03 April 2017.
  22. Rubrik “People of The Day”, diliput Tribun Lampung sebagai novelis Lampung Selatan, 2018.
  23. Kontributor buku kumpulan cerpen berjudul “Jejak Hidup” karya KPKers Lampung di Indie Digital Media (IDM) Publishing, 2018.
  24. Penulis buku novel “Diary Dua Musim” di Indie Digital Media (IDM) Publishing, 2019.
  25. Kontributor buku kumpulan puisi berjudul “Tempat Singgah” karya KPKers Lampung di Indie Digital Media (IDM) Publishing, 2019.
  26. Masuk koran dan situs Radar Lamsel pada hari Jum’at, tanggal 26 Juli 2019 dengan judul berita “Millenial Kalianda Berkarya Lewat Tulisan”.
  27. Masuk koran dan situs Tribun Lampung pada hari Kamis, tanggal 25 Juli 2019 dengan judul berita “Penulis Muda Asal Kalianda Irma, Kembali Keluarkan Novel Terbarunya”.
  28. Beberapa kali diliput oleh TVRI Lampung sebagai apresiasi atas prestasi yang diraih.
  29. Dan prestasi lainnya.

29 komentar untuk "Mengelola Perpustakaan Desa Tak Semudah Menulis Buku"

  1. Subhanallah 😍
    Terus maju untuk penggiat literasi ❤️

    BalasHapus
  2. Tetap semangat dan terus berkarya..semoga sukses selalu..aamin

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. Terima kasih, Eyang untuk dukungannya. Insya Allah Irma selalu lakukan yang terbaik.

      Hapus
    2. Sukses juga untuk Eyang. Irma berterima kasih untuk Eyang dan Abah, juga keluarga besar KPKers Indonesia yang mengajarkan Irma tentang tata tulis yang baik.

      Hapus
  4. Literasi tiada henti
    Keren ini, sukses selalu

    BalasHapus
  5. Ass.wr.wb.
    Tabik Puun

    Setelah membaca sekilas tentang tulisan yang di sajikan ini cukup luar biasa dengan apa yang di sampaikan.

    Memang tantangan berat di saat jaman kaum Melenial bisa mendirikan perpustaakaan di desa, artinya kita harus serba ekstra untuk bisa meng-edukasi kaum pelajar dan juga Warga masyarakat sekitar.

    Tantangan terberat sekarang ini....orang mau belajar dan bertanya itu cukup menggunakan Hp canggihnya.

    Semua desa memang harus punya perpustakaan desa guna untuk mencerdaskan penghuni desa khususnya para pelajar yang kemungkinan di sekolahnya minim bacaan atau bukunya itu itu saja.

    Pendampingan metode cara belajar di perpus barangkali harus bisa dilakukan agar semua minat datang keperpustakaan Desa.

    Tidak semua yang kita sajikan di sambit dengan baik.

    Salam semangat....
    Terus sengat untuk menggapai mimpi.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah. Terima kasih, Kang Eman. Aamiin. Bergerak bersama untuk Lampung khususnya, Kang.

      Hapus
  6. Sejarah dunia mencatat, kemajuan suatu bangsa besar dimulai dari budaya membaca dan menulis masyarakatnya. Perpustakaan desa menjadi salah satu parameter berkembangnya budaya membaca di ranah perdesaan. Semoga budaya membaca bisa seiring dengan budaya menulis masyarakat sehingga Indonesia di kemudian hari menjadi bangsa besar yang menjadi nation leader di bidang gerakan literasi dunia. Amin .... Sukses Salam literasi! - Adrie Noor -

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam literasi, Abah. Siap. Terima kasih juga sudah diterima di keluarga KPKers Indonesia yang mengajarkan Irma tetang tata tulis yang baik.

      Hapus
  7. Semangat....maju terus...

    Salam Literasi

    BalasHapus
  8. Tetap semangat adekku.. Semangat...semangat.. Semoga berhasil..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap, Kakakku. Aamiin dan terima kasih untuk dukungan serta doa terbaiknya, Kakb❤

      Hapus
    2. Iya sma2 adekku.. πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—

      Hapus
  9. Semangat Berjuang Princess Meymey

    KEEP MOVING Untuk Senyum Anak Negeri

    ((( CHiPS Perahu Pustaka )))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap, Bang. Terima kasih untuk doa dan dukungannya selama ini.

      Hapus
  10. MasyaAllah
    Perempuan Inspiratif 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah 😍
      Terima kasih, Anggi πŸ˜˜πŸ€—

      Hapus