Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Membangun Perpustakaan Desa Memang Tak Mudah, Namun Tidak Mustahil !


Optimesme Pemuda Desa Ketitangkidul Membangun Perpustakaan Panuntun

Penulis : Gilang Nanda Permana Widodo
Ditulis dalam rangka mengikuti Lomba Menulis Kisah Inspiratif Perpustakaan Desa dengan tema Dari Desa Membangun Bangsa

Istilah literasi kian sering didengungkan. Masyarakat menjadi akrab dengan istilah literasi, tetapi masih awam dan belum sepenuhnya paham apa makna dari literasi itu sendiri. Apalagi makna literasi sekarang semakin berkembang. Ada istilah literasi baca tulis, literasi digital, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, dan literasi budaya kewargaan. Enam literasi dasar tersebut harus dimiliki oleh generasi muda kita saat ini.

Indonesia mengalami krisis sumber daya manusia yang berkualitas disebabkan karena rendahnya literasi masyarakatnya. Banyak masyarakat yang mudah terprovokasi dengan berita dusta, tidak melakukan saring sebelum sharing, mudah menjudge orang, tidak produktif, dan sederet permasalahan yang mendera Indonesia. Sungguh memprihatinkan melihat perilaku masyarakat Indonesia, lebih menyakitkan lagi ketika hasil survei dari lembaga PISA (Programme for International Student Assesment) pada tahun 2016 yang menyatakan bahwa Indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 negara. Pukulan telak yang sebenarnya harus bisa menjadi cambuk untuk semua orang terdidik agar peduli dengan kondisi negara ini dan ada aksi untuk indonesia lebih baik.

Tulisan ini adalah kisah suka duka dalam mendirikan sebuah perpustakaan desa, dari  kami, pengurus Perpustakaan Panuntun Desa Ketitangkidul, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan. Ada beberapa dari pengurus yang berpengalaman menjadi relawan literasi bersama penulis dan teman-teman lain di komunitas GPAN (Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara) Regional Pekalongan memberikan banyak hal-hal mengesankan. Berkegiatan bersama anak-anak desa membuat sadar bahwa mereka butuh orang-orang muda yang terdidik serta peduli. Antusias yang anak-anak tunjukkan sangat membuat candu dan betah berlama-lama bercengkrama untuk mengenalkan banyak hal baru kepada mereka. Sudah seharusnya sebagai pemuda harus bisa berkontribusi membawa perubahan untuk Indonesia lebih baik.

Hal-hal mengesankan dan membekas dengan sangat kuat, lantas tidak membuat cepat puas karena merasa sudah berkontribusi untuk masyarakat. Semangat yang ada semakin meletup-letup dan ingin untuk terus bisa berbuat lebih dan lebih lagi semakin besar.

Kedekatan pengurus perpustakaan dengan pemerintah Desa Ketitangkidul tidak serta merta membuat semuanya mudah dan mulus dalam mendirikan sebuah perpustakaan desa. Kisah-kisah heroik dan penuh drama jelas menyertai dalam prosesnya.

Masalah literasi memang benar menjadi masalah serius di Indonesia, terutama di desa kami ini. Bukan perkara mudah untuk mengajak masyarakat mulai membangun budaya literasinya dari literasi paling dasar yaitu membaca dan menulis, apalagi mengajak masyarakat untuk menjadi penggeraknya. Sebuah tantangan besar ketika perihal dana tidak menjadi masalah tapi justru pada sedikitnya masyarakat yang peduli  menjadi masalah serius.

Antusiasme masyarakat yang sangat rendah dibuktikan ketika proses perekrutan pengurus untuk mengelola perpustakaan desa tersebut sepi pendaftar. Apalagi menjadi pengurus perpustakaan ini tidak mendapatkan bayaran, alias dilakukan dengan suka rela tanpa mendapat imbalan. Istilah kerennya adalah volunteer atau relawan yang selalu menawan sebab dalam aksinya selalu dibalut keikhlasan, begitulah deskripsi singkat seorang relawan. Sebuah panggilan hati tapi selalu menikmati bagaimana merasa bahagia dari hal sederhana yaitu berbagi.

Perjuangan lain yang dirasa berat adalah saat mencari buku-buku itu sendiri, pengurus perpustakaan terjun langsung ke lapangan. Harus bersusah payah untuk meluangkan waktu berbelanja banyak buku yang sudah pasti beratnya. Selain itu, hal yang dirasa pahit bagi kami sendiri adalah anggaran belanja buku dan perlengkapan lainya yang dialihkan ke bantuan sosial dampak pandemi dari dana desa, namun setidaknya kami mendapatkan  relasi dalam dunia perbukuan. Tanggung jawab dan komitmen yang membuatnya terus mau berjuang apapun kendala dan suka dukanya mengurusi segala masalah administrasi dan proses perkrutan pengurusnya.

Keterbatasan lahan juga menjadi masalah lain yang harus pengurus Perpustakaan Panuntun tangani. Perpustakaan kami menjadi kurang menarik dikarenakan saling terhubung dengan kantor BUMDes (Badan Usaha Milik Desa). Solusi untuk masalah lahan ini adalah dengan dibuatkan sebuah gedung khusus untuk perpustakaan desa  yang artinya membutuhkan banyak dana, dan baru bisa diselesailkan tahun depan untuk dianggarkan pembangunan gedung untuk perpustakaan ini.

Jadi perpustaakaan desa ini memang baru berdiri pada bulan Mei 2020, semuanya adalah pemeran baru di dalam proses mendirikan perpustaan desa ini meskipun memiliki pengalaman bersama komunitas literasi tapi bimbingan dari orang-orang yang jauh lebih paham dan mengerti sangat dibutuhkan. Tetapi yang terjadi adalah masyarakat yang kurang responsif, sehingga membuat perjuangan ini terasa lebih berat.

Namun, kami yakin bahwa apa yang kami lakukan hari ini akan berguna pada saatnya. Seberat apapun beban, setinggi apapun rintangan, akan tetap sepadan dengan hasil yang akan kami dapatkan, yaitu menjadi Desa Literasi.

BIODATA PENULIS


Nama : Gilang Nanda Permana Widodo
Tempat dan Tanggal Lahir : Pekalongan, 22 Agustus 2002
Jenis Kelamin : Laki- laki
Alamat : Desa Ketitangkidul RT 04/RW 01, Kec. Bojong,
 Kab. Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia
Agama : Islam
Status : Belum kawin
Pekerjaan : Pelajar
Hobi : Menulis dan membaca
Moto Hidup : Jika orang lain bisa, saya juga harus bisa!
Akun Media Sosial
o Facebook : Gilang Nanda Permana Widodo
o Instagram : @gilangnnd_
Nomor Telepon : 0895391821335





27 komentar untuk "Membangun Perpustakaan Desa Memang Tak Mudah, Namun Tidak Mustahil !"

  1. Cepat atau lambat dalam berproses, asal jangan pernah berhenti:)
    Sukses bukanlah kebetulan. Ia terbentuk dari kerja keras ketekunan, pembelajaran, pengorbanan, dan yang paling penting, cinta akan hal yang sedang atau ingin kamu lakukan.
    Wish you all the best

    BalasHapus
  2. Saya harap, Perpustakaan Desa, terutama Panuntun ini dapat berperan sesuai nama, yaitu menuntun semua masyarakat yang ada menuju kecerdasan merata :)

    BalasHapus
  3. Pantang menyerah,kami selalu mendukung kalian semuanya

    BalasHapus
  4. Kami sangat berharap semoga Perpustakaan Panuntun Desa Ketitangkidul dapat dan mampu mencerdaskan masyarakat Desa sampai bangsa Indonesia dan meningkatkan kualitas SDM di Ketitangkidul. Semangat

    BalasHapus
  5. Selalu Semangat dan sukses untuk segenap pengurus Perpustakaan..

    BalasHapus
  6. Selalu Semangat dan sukses untuk segenap pengurus Perpustakaan..

    BalasHapus
  7. keren & mantul sekali, sukses selalu untuk perpusdes panuntun

    BalasHapus
  8. Selalu semangat dalam mencipatakan generasi yang perduli akan literasi, dan semoga sukses untuk semua pengurus Perpustakaan Panuntun desa Ketitangkidul.

    BalasHapus
  9. Semoga perpus panuntun dapat meningkatkan minat baca di masyarakat dan bermanfaat untuk semuanya

    BalasHapus
  10. Sukses selalu buat perpustakaan panuntun desa Ketitangkidul

    BalasHapus
  11. Masya Allah... Semangat mewujudkan mimpi.. semoga Istiqomah dan berkah.. aamin

    BalasHapus
  12. Harus optimis!
    Salam literasi!

    BalasHapus
  13. Barakallah, semoga istiqamah dan bermanfaat

    BalasHapus
  14. allah menyertai dan memberkahi setiap langkah perbuatan baik aminn

    BalasHapus
  15. Semoga bermanfaat bagi masyarakat

    BalasHapus
  16. Semoga bermanfaat dan sukses selalu

    BalasHapus