Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Halaman Indonesia : Dari Desa Untuk Bangsa

Halaman Indonesia  Dari Desa Untuk Bangsa

Penulis :  Dimas Indiana Senja
Ditulis dalam rangka mengikuti Lomba Menulis Kisah Inspiratif Perpustakaan Desa dengan tema Dari Desa Membangun Bangsa

Siapapun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tak akan sirna dari dirinya.
(Ali Bin Abi Thalib)

Pada mulanya adalah cinta. Saya mencintai buku-buku. Rasa cinta itu melahirkan perasaan bahagia. Melihat buku-buku yang berderet di rak adalah kepuasan tersendiri. Mencium aroma buku baru adalah pengalaman yang tak pernah bisa dibagikan dengan istilah apapun. Saya terhibur dengan buku-buku. Kemudian rasa cinta itu menjelma sebuah pertanyaan kecil di kepala saya, semisal, Apakah perasaan terhibur dengan buku ini hanya saya yang merasakan? Bagaimana dengan yang lain? Bagaimana dengan anak-anak desa yang lain? Bagaimana dengan mereka yang tidak sempat mengenyam pendidikan yang layak untuk sekadar menikmati fasilitas perpustakaan untuk menikmati keindahan buku-buku?

Buku membawa saya menjadi penulis, menjadi sastrawan, menjadi akademisi, bahkan menjadi instruktur literasi. Saya ingin banyak orang merasakan apa yang saya rasakan. Jika perlu, mereka juga menjadi penulis, menjadi akademisi, bahkan juga menjadi instruktur literasi, meski berasal dari desa. Saya teringat dengan “sentilan” Ws Rendra dalam puisinya yang berbunyi “Apakah gunanya seseorang belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteraan, atau apa saja, jika pada akhirnya, ketika ia pulang ke daerahnya, ia berkata: di sini merasa aku asing dan sepi”. Bagi saya, itu adalah sebuah cambukan keras mengenai kontribusi yang semestinya saya berikan kepada daerah kelahiran saya. Untuk itulah, pada tahun 2017, saya mendirikan perpustakaan kecil di desa saya.

Berangkat dari keprihatinan atas tidakadanya perhatian pemerintah desa untuk mendirikan perpustakaan desa. Di desa saya, desa Paguyangan Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, tidak ada perpustakaan desa. Untuk itulah saya berinisiasi untuk mendirikan perpustakaan. Dengan modal uang pribadi yang saya dapat dari honor penelitian tahunan di Kampus IAIN Purwokerto, tempat saya mengajar, saya membangun perpustakaan kecil ukuran 2x10 meter di sebelah rumah. Untuk itulah saya beri nama Halaman Indonesia, karena di halaman samping dari rumah, sementara saya menganggap bahwa rumah saya adalah Indonesia. Saya bermimpi dari sepetak ruang ini akan lahir generasi bangsa yang kreatif-produktif-progresif.

Koleksi Halaman Indonesia adalah buku-buku yang saya kumpulkan dengan dana pribadi, dan saya telah menyortir, yang saya display adalah buku-buku ringan.  Karena betatapun yang paling utama adalah menumbuhkan minat membaca di masyarakat desa terlebih dahulu, khususnya anak-anak. Mencoba agar anak-anak merasa terhibur dengan buku-buku. Untuk itu Halaman Indonesia mencoba memberi bacaan seperti komik, fabel, dongeng, hingga novel pop. Menurut David Eskey, tujuan membaca semacam ini adalah reading for pleassure. Bacaan yang dijadikan objek kesenangan menurut David adalah “bacaan ringan”. Saya mengumpulkannya semenjak masih duduk di bangku kuliah sarjana, sementara saat ini saya sedang menyelesaikan studi doktoral di tempat saya mengajar. Artinya, cukup lama saya menghimpun buku-buku itu.

Pada mulanya, Halaman Indonesia saya tujukan untuk anak-anak desa, khususnya RT 02 RW 03. Tetapi, orangtua saya kebetulan menyukai kegiatan pengajian, lantas Halaman Indonesia dijadikan tempat ngaji, baik anak-anak maupun orang-orangtua. Untuk anak-anak, pengajiannya adalah Iqra dan Al Quran setelah maghrib. Ibu sayalah yang menjadi pengajar atau ustadzah. Sementara untuk orang-orang tua, diadakan pengajian tahlil, pembacaan diba’ dan barzanji selepas isa dua kali dalam seminggu. Bahkan menjadi kegiatan rutin lingkungan sekitar rumah. Dari situlah, saya merasa bahwa Halaman Indonesia terasa seperti Majelis Taklim, sesuatu yang barangkali berbeda dengan perpustakaan desa lainnya.

Waktu berjalan. Saya merasa Halaman Indonesia juga perlu melakukan hal-hal lain yang progresif. Sebab jika perpustakaan hanya dipahami sekadar menyimpan buku  dan meminjam buku tanpa ada kegiatan yang merangsang masyarakatnya, cepat atau lambat perpustakaan akan ditinggalkan. Apalagi Halaman Indonesia adalah perpustakaan kecil di desa. Saya teringat dengan kehebatan perpustakaan The Royal Alexandira (Abad 3 SM), yang mana perpustakaan ini selain menghimpun banyaknya buku dan informasi, juga menyediakan tempat-tempat untuk orang-orang dari belahan dunia untuk berdiskusi, menulis, bereskpresi. Juga perpustakaan di Irlandia bernama Trinity College Library, perpustakaan yang bukan sekadar tempat membaca buku, melainkan juga tujuan wisata. Bahkan karena pesona dan keindahannya, menjadikan perpustakaan ini menerima paket tur lengkap dengan pemandu untuk mengelilingi perpustakaan dengan biaya masuk USD 12. Untuk itulah saya menjadikan Halaman Indonesia sebagai tempat diskusi beberapa komunitas, seperti Bumiayu Creative City Forum (BCCF), Klayaban (Komunitas Jelajah Alam dan Budaya Brebes Selatan), Paseduluran Mahasiswa Bumiayu (PMB), Gusdurian Bumiayu, dan Lingkar Maiyah Bumiayu.

Komunitas Gusdurian Bumiayu Berdiskusi Ria di Perpustakaan Halaman Indonesia

Ini salah satu kegiatan diskusi di Perpustakaan Halaman Indonesia, yakni komunitas Gusdurian Bumiayu. Kegiatan ini merupakan rutinan, berisi diskusi pemikiran Gus Dur. Dilakukan malam hari seusai kegiatan pengajian anak-anak. Saya berharap dengan adanya diskusi di Halaman Indonesia yang notabene dihadiri banyak pemuda, menjadikan Halaman Indonesia menjadi pelopor perpustakaan desa yang progresif.

UU No 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan menyebutkan bahwa perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku, guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Dalam pada ini, saya merasa banyak orang yang terlalu menganggap remeh ikhwal substansi perpustakaan. Perpustakaan bukan sekadar tempat penyimpanan buku yang kadang sampai berdebu, tetapi juga bagaimana perpustakaan menjadi pusat pendidikan dan peradaban, tempat munculnya ide-ide bernas, ide-ide kreatif. Perpustakaan juga menjadi sumber informasi atau arsip. Pada tahun 2019, salah seorang peserta program seniman mengajar dari Kemendikbud yang berasal dari Jakarta sempat berkunjung ke Halaman Indonesia untuk menggali data tentang folklor di Brebes Selatan, bahkan membuat film pendek. Saya sebagai founder sekaligus narasumber. Saya ingin menunjukkan bahwa perpustakaan, di desa sekalipun, harus menjawab tantangan sekaligus tuntutan dalam UU mengenai perpustakaan, yang salah satunya adalah informasi berbasis data. Untuk itulah Halaman Indonesia sedang saya desain menjadi Pusat Studi Budaya Brebes Selatan.

Saya sadar napas panjang perpustakaan ada di tangan pustakawan. Masa depan perpustakaan tergantung pada profesionalisme seorang pustakawan pengelolanya. Pustakawan yang profesional memiliki Skill, knowledge, kemampuan, serta kedewasaan psikologis (Restianingsih, 1998). Oleh sebab saya penulis, maka, saya bermaksud menjadikan Halaman Indonesia sebagai tempat yang memproduksi penulis. Oleh karena itu, Halaman Indonesia kerap mengadakan pelatihan menulis, baik puisi, cerpen, hingga cerita anak. Salah satu kegiatan pelatihan penulisan cerita anak adalah sebagaimana diberitakan di https://nusantaranews.co/bccf-siapkan-penulis-cerita-anak-dari-perpus-halaman-indonesia/ yakni pelatihan penulis cerita anak dengan pembicara Devi Ardiyanri, salah satu pengurus Halaman Indonesia yang juga seorang penulis cerita anak.

Tim Pengelola Perpustakaan Desa Halaman Indonesia

Dalam upaya meningkatkan kapasitas dan wawasan pengelola perpustakaan, saya menghadirkan tim pengelola perpustakaan desa yang sudah menasional secara karya dan kontribusi, yakni RKWK, rumah kreatif wadas kelir dari Purwokerto. Ada arahan dan bimbingan dari founder RKWK Heru Kurniawan, seorang pustakawan nasional. Harapannya adalah para pengelola Halaman Indonesia mendapatkan semangat dan gagasan segar dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan. Dengan sering menghadirkan praktisi literasi dan pustaka yang sudah berpengalaman, saya berharap Halaman Indonesia akan terus berkembang menjadi perpustakaan desa yang memberi kontribusi nyata bagi kecerdasan dan peradaban bangsa.

Salah Satu Aktifitas Perpustakaan Desa Halaman Indonesia
Meski tempatnya di desa, Halaman Indonesia mencoba untuk memperluas jaringan literasi. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah membuat Literasi Kafe yang digerakkan oleh teman-teman BCCF. Yakni sebuah gerakan mendekatkan literasi kepada anak muda. Halaman Indonesia bekerjasama dengan beberapa kafe untuk membuat perpustakaan. Artinya, di beberapa kafe di Bumiayu ada pojok literasi berupa rak buku yang diisi dengan buku-buku dari Halaman Indonesia. Melalui literasi kafe ini, pengunjung bisa membaca buku gratis sambil menikmati hidangan. Mengenai Literasi Kafe ini, kami membuat sebuah film pendek yang bisa dilihat di https://www.youtube.com/watch?v=kT963xy3NDg&t=161s. Perlahan, saya melihat anak muda sudah mulai terhibur dengan buku-buku. Tabik.


BIODATA PENULIS



*Dimas Indiana Senja, nama pena dari Dimas Indianto S. Sastrawan, peneliti, dan Dosen IAIN Purwokerto. Bukunya: Nadhom Cinta, Suluk Senja, Sastra Nadhom, Pitutur Luhur, Museum Buton, dan Kidung Paguyangan. Pada 2012 menjadi perwakilan Indonesia dalam pertemuan sastrawan Nusantara Melayu Raya (NUMERA) di Padang. Pada 2015 mendapat penghargaan sebagai pemuda berpestasi bidang pendidikan, seni, dan budaya dari Pemda Kab. Brebes. Pada 2016 menjadi emerging writer dalam acara Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) di Bali. Pada 2019 menjadi instruktur literasi nasional di bawah Kemdikbud dan didaulat sebagai ketua instruktur literasi Jawa Tengah. Pada 2019, menjadi pembicara dalam Mandar Writer and Cultural Forum (MWCF) di Sulawesi. Pada 2019 juga menjadi perwakilan Indonesia dalam program penulisan esai oleh Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA) di bawah Kemdikbud. Pada 2020 menjadi juara penulisan esai yang diselenggarakan Bitread dan Pemda Sumedang. Pada 2020 juga menjadi salah satu finalis Jejak Virtual Aktor (JVA) yang diselenggarakan Kemdikbud.

Posting Komentar untuk "Halaman Indonesia : Dari Desa Untuk Bangsa"