Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerita Tiga Perempuan Hebat Membangun Perpustakaan Desa GGM, Perpusdes Terbaik Nasional 2018


Cerita Tiga Perempuan Hebat Membangun Perpustakaan Desa GGM, Perpusdes Terbaik Nasional 2018
Luar biasa. Baru tiga tahun berdiri, namun Perpustakaan Gampingan Gemar Membaca (GGM), di Desa Gampingan, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, sudah meraih prestasi tingkat nasional. Perpustakaan GGM menjadi juara I untuk Cluster A dalam lomba perpustakaan umum terbaik desa atau kelurahan se-Indonesia. Penghargaan diberikan langsung oleh Kepala Perpustakaan RI, Muhammad Syarif Bando, pada 6 September 2018 lalu.


“Kami datang untuk belajar, kami pulang untuk membawa ilmu”. Kalimat itulah yang terpasang pada dinding Perpustakaan GGM, yang berada di Jalan Raya Gampingan, Kecamatan Pagak. Makna dari kalimat itu, bahwa anak-anak desa yang datang ke Perpustakaan GGM, tidak sekadar bermain. Mereka belajar dan pulang membawa ilmu yang baru dipelajarinya.

“Semuanya boleh datang untuk belajar ke perpustakaan ini. Sebab kami tidak membatasi anak untuk belajar. Perpustakaan GGM ini, buka pagi sampai malam hari kecuali tanggal merah,” ungkap Atul Choiriyah, Kepala Perpustakaan GGM.

Perpustakaan GGM ini, berdiri pada bulan April 2015. Sebelum memiliki gedung sendiri dan menjadi terbaik tingkat nasional, semula menumpang di lantai dua Kantor Desa Gampingan. Itupun gabung dengan kantor PKK serta karang taruna desa.

Adalah tiga orang yang berjasa mendirikan Perpustakaan GGM ini. Mereka adalah Atul Choiriyah, seorang guru tidak tetap (GTT) SMP Negeri 2 Kepanjen, Yayuk Wijayanti serta Ninik, seorang ibu rumah tangga. Ketiganya saat itu tergerak, karena ingin menumbuhkan minat baca kepada anak-anak desa.

Untuk memulai mendirikan perpustakaan, mereka harus mengumpulkan buku bacaan. Semua buku bacaan bekas milik ketiganya yang sudah tidak terpakai, dibawa ke perpustakaan. Termasuk membeli beberapa buku dari loakan.

“Saya masih ingat, dulu pertama kali membawa buku Bahasa Inggris milik anak saya,” ujar Yayuk Wijayanti, yang langsung disambung oleh Atul. “Kalau saya, buku bekas sekolah dan kuliah,” ucap Atul.

Selain mengumpulkan buku-buku, Atul yang membuka les privat di rumahnya, juga memboyong anak didik les ke perpustakaan. Ini dilakukan untuk menghidupkan aktivitas perpustakaan. “Kebetulan rumah saya di belakang Kantor Desa, sehingga anak-anak yang les, saya arahkan ke perpustakaan,” tutur Atul.

Berkat ketekunan dan keuletan mereka bertiga, Perpustakaan GGM inipun berkembang menjadi besar. Dari semula menempati lantai dua Kantor Desa, kini sudah menempati bangunan sendiri eks Kantor Bumdes di Jalan Raya Gampingan sejak 2017.

Bangunannya bertingkat dua lantai. Tidak terlalu luas. Namun penataan yang baik serta desain ruangan yang apik, membuat Perpustakaan GGM terkesan megah. Anak-anak yang datang untuk belajar pun merasa nyaman.

“Khusus untuk lantai dua, kami fungsikan sebagai tempat dongeng. Anak-anak selain belajar, juga mendapat dongeng. Misalnya dongeng soal bahaya sampah,” jelas wanita berhijab ini.

Untuk meraih prestasi sebagai perpustakaan desa atau kelurahan terbaik nasional yang baru didapat tidaklah mudah, butuh perjuangan keras. Karena bagaimana harus bisa mengembangkan perpustakaan yang dapat diterima oleh masyarakat. Sebab persepsi masyarakat, menganggap bahwa keberadaan perpustakaan desa hanya sebagai pelengkap atau asal ada hanya untuk memenuhi kewajiban.

Dari persepsi itulah, Atul bersama pengurus lainnya, lalu berusaha untuk mengembangkan Perpustakaan GGM. Selain melengkapi buku bacaan, juga melakukan terobosan lain di luar perpustakaan untuk meningkatkan minat baca masyarakat.

Terobosan yang dilakukan adalah membuat lima titik pojok baca yang menyebar di Desa Gampingan. Pertama adalah Rumah Edukasi Berbasis Lingkungan di lokasi RT02 RW01, dengan menggandeng kader lingkungan bernama Ahmad Yani. Di rumah edukasi ini, masyarakat dan anak-anak belajar tentang lingkungan.

“Ada banyak buku bacaan tentang lingkungan. Rumah Edukasi inipun juga sudah berkembang dan terbentuk beberapa kader. Seperti kader Sido Kreatif, Sido Kreasi, Sido Manfaat dan lainnya,” urainya.

Pojok Baca kedua, adalah Pos Learning atau ramah anak. Ini berada di lokasi RT03 RW01. Pojok Baca ini, sengaja didirikan karena banyak anak yang putus sekolah, dan bekerja setelah lulus SD. Tujuan dengan adanya Pos Learning, selain untuk meningkatkan minat baca anak, juga memberi pelatihan ketrampilan kepada mereka. Termasuk menggiring anak supaya kembali pada dunia pendidikan.

Ketiga adalah Pojok Baca Pesona Toga yang berada di RT06. Selain buku bacaan tentang tanaman toga, keberadaan Pesona Toga ini diharapkan bisa terbangun sebuah wisata toga yang akan menarik banyak wisatawan untuk datang.

Keempat adalah Pojok Baca Bilik Edukasi yang ada di Dusun Dempok. Pojok Baca ini sengaja dibuat, untuk memberi kesempatan warga sekitar dan wisatawan membaca. Pengunjung yang datang tidak hanya sekadar kuliner atau bermain wisata air, tetapi juga bisa menyempatkan membaca buku.

“Nantinya di Pojok Baca Bilik Edukasi ini, selain sebagai perpustakaan juga akan kami wujudkan sebagai pusat oleh-oleh hasil olahan ikan atau UMKM warga Desa Gampingan,” tutur wanita berwajah manis ini.

Terakhir adalah Pojok Baca di wisata panjat tebing Lembah Kera. Keberadaan perpustakaan ini, selain untuk menarik wisatawan datang, sekaligus menyentuh pemerintah untuk meningkatkan wisata Lembah Kera. Karena keberadaan wisata itu, selama ini belum pernah tersentuh oleh pemerintah.

Dari terobosan yang dilakukan Perpustakaan GGM inilah, setahun kemudian pada 2016 mulai mendapat hasilnya. Pertama menjadi perpustaan terbaik kedua tingkat Kabupaten Malang, di tahun 2016. Kemudian setelah semua program dibenahi dan ditingkatkan, pada 2017 menjadi yang terbaik tingkat Kabupaten Malang.

Perpustakaan GGM pun, akhirnya menjadi wakil Kabupaten Malang untuk lomba perpustakaan desa di tingkat Provinsi Jawa Timur, pada Mei 2018. “Saat tingkat Provinsi Jatim, kami sempat pesimis bisa juara I. Target kami hanya juara II, karena Gresik ada Perpustakaan Rumah Pelangi, yang programnya juga bagus,” jelasnya.

Namun setelah penilaian, ternyata program lima Pojok Baca Perpustakaan GGM justru dinyatakan yang paling bagus, hingga menjadi juara I tingkat Provinsi Jawa Timur. Dengan prestasi itu, Perpustakaan GGM pun akhirnya menjadi wakil Provinsi Jatim untuk melaju ke tingkat nasional.

Di tingkat nasional, seluruh perpustakaan terbaik yang mewakili daerahnya, harus mengumpulkan instrument profil perpustakaan. Dari semua profile yang terkumpul, kemudian Perpustakaan RI menilai dan menjaring 18 perpustakaan saja, yang selanjutnya dibagi menjadi tiga cluster. Yakni cluster A, untuk kota atau provinsi besar. Cluster B untuk kota atau provinsi sedang dan cluster C untuk kota atau provinsi kecil.

Perpustakaan GGM masuk pada cluster A, yang harus bersaing dengan Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan. Dari penilaian program yang sudah berjalan, Perpustakaan GGM dinobatkan menjadi juara I nasional karena kesiapan dan kematangan perpustakaan yang bagus.

Dengan predikat terbaik nasional itu, selain mendapat sertifikat dan piala dari Kepala Perpustakaan RI, juga mendapat hadiah uang pembinaan sebesar Rp 25 juta. “Uang hadiah ini, akan kami kembalikan lagi untuk pengembangan perpustakaan. Yakni, selain untuk membeli komputer, juga membeli sepeda untuk menjangkau daerah yang hanya bisa dilalui dengan sepeda saja. Ini tak lain untuk meningkatkan minat baca pada masyarakat dan anak-anak,” paparnya.

Tidak hanya itu, dengan predikat terbaik di tingkat Jawa Timur dan Nasional, Perpustakaan GGM juga menjadi jujukan studi banding daerah lain. Seperti Bali, Probolinggo, hingga Sumatera Utara. Termasuk, dulu yang sulit mencari buku bacaan, sekarang banyak masyarakat yang peduli untuk menyumbangkan buku bacaan ke Perpustakaan GGM.[]

Posting Komentar untuk "Cerita Tiga Perempuan Hebat Membangun Perpustakaan Desa GGM, Perpusdes Terbaik Nasional 2018"