Keren! Pustaka Desa Wukirsari Berhasil Menjadi Pusat Pemberdayaan Masyarakat

Pustaka Desa Wukirsari sebagai Pusat Pemberdayaan Masyarakat
Gedung yang memiliki arsitektur unik di jalan masuk menuju Desa Wukirsari Imogiri Bantul, ramai dikunjungi warga setiap hari Senin sampai Jum’at. Mereka berkunjung ke gedung perpustakaan yang bernama “Pustaka Desa Wukirsari” itu untuk meminjam dan membaca buku-buku yang ada diperpustakaan.

“Biasanya kalau tidak sedang menghadapi ulangan atau ujian, di sini ramai banyak yang pinjam buku. Tapi saat ini kan sekolah persiapan ujian, jadi agak sepi,” kata Nurul, salah satu petugas di Pustaka Desa Wukirsari.

Menurut Nurul, perannya tidak hanya melayani peminjaman buku dan penataan ulang buku-buku yang dikembalikan oleh peminjamnya. Dia juga sering mendampingin anak-anak yang mengerjakan tugas sekolah. Selain membantu mencarikan buku-buku yang berkaitan dengan tugas sekolah, dia mendampingi anak-anak dalam mengerjakan PR yang diberikan sekolah.

“Kalau ada kesulitan mereka sering minta didampingi untuk mengerjakan PR, kitakerjakan bersama. Biasanya mereka dalam kelompok kecil belajar bersama di sini setelah pulang sekolah,” tutur Nurul yang mengaku bekerja di perpustakaan itu dari jam 09:00 pagi sampai 15:00 sore.

Menurut Ujang Purnomo (39) yang merupakan Ketua Pustaka Desa Wukirsari, keberadaan Pustaka Desa merupakan kelanjutan dari perpustakaan desa yang sebelumnya terpusat menjadi satu di lingkungan kantor Kepala Desa Wukirsari. Akibat gempa pada tahun 2006, perpustakaan itu roboh dan buku-bukunya hancur terkena air hujan. Meski sempat vakum tapi semangat warga untuk terus belajar dan semangat membaca begitu besar. Sehingga gairah untuk menghidupkan kembali perpustakaan bangkit ketika ada tawaran dari pihak pemerintah. Pada tanggal 28 Oktober 2012 gedung perpustakaan itu diresmikan dan diberi nama “Pustaka Desa Wukirsari”. 

“Sengaja tidak memakai kata perpustakaan, karena kita ingin mendekatkan buku pada warga sehingga menghilangkan kesan formalnya,” ucap Ujang.

Menurutnya, hampir setiap hari pengunjung yang datang ke Pustaka Desa Wukirsari tidak kurang dari 35-50 orang yang rata-rata pelajar di berbagai jenjang pendidikan. Bahkan anak-anak PAUD dan guru-guru sering melaksanakan pembelajaran di perpustakaan itu. Memang ada ruang khusus yang didesain untuk melayani anak usia dini. Sehingga meski suasana ramai pengunjung, mereka (anak usia dini) tidak akan dirasakan mengganggu pengunjung lain di lokasi tersebut. 

“Ada ruang khusus untuk PAUD, mereka dengan bimbingan gurunya setelah memilih buku kemudian kembali ke ruang PAUD,” ungkapnya.

Untuk mendapatkan fasilitas peminjaman buku, pengunjung tidak dipungut sewa ataupun denda ketika telat karena tidak tepat waktu ketika mengembalikan buku. Semua pelayanan gratis dan Cuma-Cuma. Semua orang bisa meminjam buku di perpustakaan ini. Tidak hanya untuk warga Desa Wukirsari saja.

Menurut Ujang, kejujuran dan semangat anggota untuk merawat buku cukup baik. Buktinya dari sekitar 5.000 buku yang tersediaa di Pustaka Desa Wukirsari masih tetap utuh serta terawat dengan baik. Meskipun diakui ada satu-dua pengunjung yang tidak mengembalikan buku. “Tapi saya yakin buku itu tetap dibaca dan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Jadi kita ikhlaskan saja,” ucapnya.

Dahulu memang pernah diberlakukan peraturan ketat tentang syarat meminjam buku. Bahkan jika terlambat mengembalikan buku yang dipinjam, akan mendapatkan denda sebesar Rp. 500 perhari sampai buku itu dikembalikan. Tapi ternyata dengan kebijakan itu banyak yang tidak mau atau sungkan berkunjung ke Pustaka Desa Wukirsari. Terutama anak-anak. Karena takut dikenakan denda. 

“Kita sempat juga bingung dengan menurunnya minat baca, ketika menerapkan peraturan itu. Namun setelah kita sosialisasi bahwa tidak ada peraturan dan denda, ternyata minat baca warga cukup menggembirakan terutama anak-anak dan pelajar banyak yang kemudian aktif meminjam buku,” ungkap Ujang.

Pustaka Desa Wukirsari juga memiliki kegiatan yang terkait dengan pemberdayaan serta berbagai workshop peningkatan sumber daya manusia masyarakat Wukirsari, selain menjadi pusat kegiatan membaca. Menurut Ujang, untuk mendukung kegiatan itu, pihaknya diberi kepercayaan oleh pihak desa untuk mengelola anggaran kurang dari Rp. 50 juta dalam satu tahun.

Sebagai bagian dari BUMDes Desa Wukirsari yang non profit, Pustaka Desa Wukirsari memiliki tanggung besar bagi karya nyata akan keberhasilannya dalam upaya meningkatkan SDM. Sehingga rancangan kerja terprogram dan berkesinambungan dengan memanfaatkan jejaring pun kemudian dilakukan. Menurut Ujang, banyak kunjungan dan studi banding dari berbagai daerah yang ingin menimba pengalaman pengelolaan di Pustaka Desa Wukirsari.

Demikianlah Pustaka Desa Wukirsari sebagai Pusat Pemberdayaan Masyarakat. Semoga bermanfaat![]Teguh


Sumber: Harian Minggu Pagi, edisi Minggu II Desember 2016

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel