Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Minat dan Kegemaran Membaca Masyarakat

Minat baca memang belum didefinisikan secara tegas dan jelas. Namun Prof. A. Suhaenah Suparno dari IKIP Jakarta memberi petunjuk mengenai hal ini yaitu tinggi rendahnya minat baca seseorang seharusnya diukur berdasarkan frekuensi dan jumlah bacaan yang dibacanya. Namun perlu ditegaskan bahwa bacaan itu bukan merupakan bacaan wajib. Misalnya bagi pelajar, bukan buku pelajaran sekolah. Jadi seharusnya diukur dari frekuensi dan jumlah bacaan yang dibaca dari jenis bacaan tambahan untuk berbagai keperluan misalnya menambah pengetahuan umum.

Minat dan Kegemaran Membaca Masyarakat

Menurut Baderi Minat baca dipahami sebagai keinginan untuk mengetahui, memahami isi dari apa yang tertulis yang mereka baca. Melalui kegiatan “membaca” manusia mengisi khazanah memorinya dengan informasi yang secara kumulatif akan membentuk dan mempengaruhi prilaku manusia tersebut dalam kiprahnya sebagai makhluk berbudaya. Dengan menggunakan panca inderanya, manusia menyerap informasi yang terkandung dalam objek yang “dibacanya”.

Kita harus mangakui minat baca masyarakat kita masih rendah. Untuk mencari akar-akarnya tidak sulit, karena sering didiskusikan. Antara lain masih kuatnya budaya dengar dan budaya tulis, kondisi sosial ekonomi masyarakat belum menunjang minat baca dan daya beli masyarakat, kemajuan teknologi dan komunikasi, terutama media elektronik dapat menjadi ancaman untuk minat baca, sistem belajar/mengajar dan kurikulum di sekolah atau perguruan tinggi kurang menunjang kegemaran membaca dan menulis.

Hasil riset The International Association for the Evaluation of Educational Achievment (IEA) tahun 1992 dalam sebuah Studi Kemampuan Membaca yang dilakukan terhadap 30 negara di dunia termasuk Indonesia, menyimpulkan bahwa kemampuan baca anak-anak Indonesia menduduki rangking ke-29 di atas Venezuela yang menduduki ranking ke-30. Dari seluruh butir soal yang diberikan kepada anak-anak kelas IV pada Sekolah Dasar kita ternyata yang dapat dijawab dengan “benar” hanya 36,1 %, sedangkan sisanya 63,9 % dijawab secara salah.

Selanjutnya IEA dalam laporannya tahun 1992 menyatakan bahwa SD kita menempati rangking ke-26 dari 27 negara yang dijadikan sampel, sedangkan SMP sedikit lebih baik namun masih ketinggalan dari prestasi rata-rata negara tetangga. Berdasarkan skor (jumlah angka) maka Indonesia menduduki ranking terakhir dari urutan Hongkong yang mendapat skor 75,5, Singapura 74, Thailand 65,6 dan skor untuk Indonesia 51,77.

Masalah kegemaran membaca perlu dilihat secara menyeluruh. Masalah minat dan kegemaran membaca ini tidak berdiri sendiri. Secara historis kita harus lihat lingkungan tempat tinggal seseorang sejak kanak-kanak. Yang paling mudah adalah dengan cara melihat lingkungan keluarga sekitar kita tinggal. Bagaimana sebagian besar keluarga di sekitar kita membina minat baca anak-anaknya. Kita bias perhatikan kebiasaan anak-anak pada hari minggu. Sebagian besar anak-anak akan berada di depan TV sejak pukul 07.00 sampai paling tidak pukul 10.00 atau bahkan lebih. Hampir tidak ada anak yang tekun membaca pada jam-jam tersebut. 

Hasil penelitian Saleh dkk8 (1995 dan 1996) melaporkan bahwa sebagian besar orang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk nonton TV dibandingkan dengan membaca (sebagian besar nonton lebih dari 3 jam sedangkan membaca sebagian besar kurang dari 1 jam setiap hari). Bahan bacaannyapun sebagian besar hanya membaca koran dan majalah. Tidak terlalu banyak orang yang membaca buku. Ini merupakan salah satu bukti bahwa minat membaca masyarakat Indonesia masih kalah dibandingkan dengan minat menonton. 

Bukti lain yang menunjukkan bahwa minat baca dikalangan kaum intelektual juga masih rendah adalah data kunjungan ke perpustakaan oleh mahasiswa yang memperlihatkan betapa sedikitnya mahasiswa yang memanfaatkan perpustakaan. Data dari beberapa perpustakaan perguruan tinggi menunjukkan bahwa pengunjung perpustakaan tersebut tidak lebih dari 10 % dari jumlah mahasiswa. Sebagian besar mahasiswa berkunjung ke perpustakaan tidak lebih dari 1 kali dalam sebulan. Mahasiswa lebih suka berkumpul di kantin daripada di perpustakaan.

Terlepas dari itu segala suasana suram dalam dunia minat baca, perlu dipahami bahwa perubahan dari budaya dengar dan lisan ke budaya membaca dan menulis, diperlukan langkah-langkah yang strategis dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat, membaca dan kebiasaan membaca umumnya diperoleh melalui pengalaman belajar membaca.

Demikianlah Minat dan Kegemaran Membaca Masyarakat. Semoga bermanfaat!

Posting Komentar untuk "Minat dan Kegemaran Membaca Masyarakat"